Mulyadi juga mengingatkan jika sebelumnya Tri sempat meninggalkan Bekasi selama hampir tiga minggu untuk menjalankan ibadah umrah.

Kini ia kembali bepergian ke luar daerah, yang menurutnya memperkuat keraguan publik tentang efektivitas kepemimpinan sang wali kota.

“Kota Bekasi ini bukan kota otomatis yang bisa berjalan sendiri. Kalau eali kota terlalu sering tampil dalam agenda-agenda luar yang bernuansa pencitraan, kapan waktunya benar-benar bekerja untuk masyarakat?” sindirnya.

Mulyadi menambahkan masih banyak persoalan mendesak yang seolah dibiarkan berjalan tanpa arah, di antaranya banjir yang berulang, kemacetan kronis, jalan berlubang, hingga meningkatnya angka pengangguran.

“Setiap bulan angka pengangguran bertambah. Lalu apa sebenarnya yang sedang dikerjakan wali kota?” tanya Mulyadi.

Ia pun meminta Tri Adhianto kembali pada fungsi dasar sebagai kepala daerah, yakni melayani, bukan memamerkan citra. Ia mengingatkan bahwa popularitas di media sosial tidak bisa menggantikan kerja substantif yang seyogianya dilakukan pemimpin daerah.

“Pencitraan itu hanya panggung depan. Sementara bekerja sebagai kepala daerah berada di panggung belakang, bagian yang justru tidak pernah ingin ditampilkan kepada publik,” ujarnya.

Menurutnya, publik hari ini tidak lagi peduli seberapa sering Tri muncul di kamera. Yang dicari justru jawaban atas persoalan mendasar di lapangan yang belum tersentuh.

“Mungkin warga mulai berani bertanya: kinerja apa yang sebenarnya sudah dilakukan Tri Adhianto sebagai wali kota? Bagaimana kondisi faktual di lapangan? Dan mungkin saja Wali Kota sendiri tidak ingin warga melihat itu,” tandasnya.

Ronnie Sahala
Editor