Megapolitan.co – Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis belakangan memicu perbincangan luas di media sosial.

Sorotan publik muncul setelah pernyataan Prabowo mengenai pentingnya pembelajaran bahasa Prancis dalam rangkaian agenda luar negerinya ramai diperbincangkan warganet.

Sejumlah pihak menilai pernyataan tersebut kurang sejalan dengan kondisi pendidikan di dalam negeri yang dinilai masih menghadapi berbagai tantangan mendasar.

Sebagian publik menyoroti persoalan pemerataan pendidikan, kualitas literasi, hingga akses belajar di sejumlah daerah yang dianggap masih membutuhkan perhatian serius.

Perdebatan itu kemudian melebar menjadi pembahasan mengenai arah kebijakan pendidikan nasional, skala prioritas pembangunan, hingga relevansi penguatan bahasa asing di tengah berbagai persoalan sosial yang masih dihadapi masyarakat.

Di media sosial, berbagai unggahan yang viral juga mengaitkan polemik tersebut dengan intensitas kunjungan luar negeri Presiden serta agenda pembangunan pemerintah saat ini.

Meski jadi bahan perdebatan publik, pemerintah menegaskan kunjungan Prabowo ke Prancis, pada Kamis, 28 Mei 2026, tidak hanya agenda seremonial semata, tetapi bagian dari strategi diplomasi Indonesia untuk memperkuat hubungan bilateral dengan Prancis di berbagai sektor strategis.

Adapun kerja sama yang dibahas mencakup sejumlah bidang penting seperti pertahanan, energi, perdagangan, pendidikan, riset, hingga investasi jangka panjang.

Dalam pertemuan bilateral di Istana Élysée, Presiden Prabowo bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron membahas sejumlah isu yang dinilai berkaitan langsung dengan kepentingan Indonesia.

Agenda pembahasan meliputi penguatan kerja sama pertahanan, pengembangan energi bersih, kolaborasi riset dan pendidikan, perdagangan, serta percepatan implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut pertemuan kedua kepala negara itu menghasilkan sejumlah capaian konkret.

“Dalam kunjungan kenegaraan tersebut, tercapai empat kesepakatan komersial baru yang difokuskan pada sektor ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan,” ujar Teddy.

Selain kesepakatan di sektor ekonomi dan pertahanan, Indonesia dan Prancis juga meluncurkan forum bisnis tingkat tinggi France-Indonesia High Level Business Council.

Forum itu diproyeksikan menjadi ruang kolaborasi antara pelaku usaha kedua negara untuk memperluas investasi sekaligus memperkuat hubungan ekonomi menjelang implementasi kerja sama Indonesia-Uni Eropa.

Pembahasan dalam pertemuan tersebut juga menyentuh isu geopolitik global. Presiden Prabowo dan Presiden Macron mendiskusikan situasi Timur Tengah, konflik Ukraina, keamanan kawasan Indo-Pasifik, hingga stabilitas Asia Tenggara.

Macron menegaskan Indonesia memiliki posisi penting bagi Prancis dalam konteks kawasan Indo-Pasifik.

“Indonesia adalah mitra penting strategis dari Indo-Pasifik dan saya yakin ini juga bagian dari keyakinan Bapak Prabowo,” kata Presiden Macron dalam pernyataan bersama usai pertemuan bilateral.

Presiden Prancis itu juga mengapresiasi peran Indonesia yang dinilai aktif mendorong perdamaian internasional, termasuk dukungan terhadap Palestina dan partisipasi pasukan Indonesia dalam misi perdamaian di Lebanon.

Menurut Macron, kemitraan Indonesia dan Prancis memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas global di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah.

Di tengah munculnya kritik di media sosial, sejumlah pengamat menilai perbedaan pandangan masyarakat terhadap agenda luar negeri presiden merupakan hal yang lumrah dalam sistem demokrasi.

Sementara itu, pemerintah menilai diplomasi aktif tetap menjadi langkah penting untuk memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional, membuka peluang investasi, memperluas pasar, serta menjaga kepentingan nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.

megapolitanco
Editor