Megapolitan.co – Kenaikan harga plastik di Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, memaksa pedagang mengubah strategi agar tetap bisa bertahan tanpa membebani pembeli.

Lonjakan harga kemasan ini disebut-sebut dipicu dampak konflik di Timur Tengah yang memengaruhi rantai pasok bahan baku.

Para pedagang kebutuhan pokok, khususnya bumbu dapur, kini tidak lagi leluasa menggunakan plastik seperti biasa.

Mereka mulai menghemat dengan mengubah pola pengemasan, bahkan menggabungkan beberapa pembelian dalam satu kantong.

Harga kantong plastik kresek yang sebelumnya Rp45 ribu per ikat kini melonjak menjadi Rp65 ribu per ikat.

Kenaikan ini cukup signifikan, mengingat plastik menjadi kebutuhan utama dalam aktivitas jual beli sehari-hari.

Muhamad Balia, pedagang rempah-rempah di Pasar Rangkasbitung menyebut kenaikan harga plastik sudah terjadi sejak akhir Maret 2026 dan berdampak langsung pada cara pelayanan ke pembeli.

“Biasanya satu pembelian dipisah, sekarang disatukan supaya hemat plastik,” katanya, Selasa (7/4/2026).

Sementara Meti, pedagang bumbu dapur, mengaku harus memutar strategi agar biaya operasional tidak membengkak.

Dalam kondisi normal, ia bisa menghabiskan hingga lima ikat plastik per hari.

“Dalam sehari bisa habis lima ikat plastik. Sekarang cara bungkus diubah, biasanya seperempat kilo satu plastik, sekarang dijadikan satu kilo satu plastik supaya lebih hemat agar biaya operasional tetap terkendali,” ujarnya.

Meski biaya kemasan meningkat, para pedagang memilih tidak menaikkan harga jual. Mereka khawatir kenaikan harga justru akan menurunkan daya beli masyarakat.

Dengan berbagai penyesuaian yang dilakukan, pedagang berharap harga plastik segera kembali normal agar aktivitas perdagangan di pasar tradisional tidak semakin tertekan.

megapolitanco
Editor