Megapolitan.co – Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.672 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Mei 2026 memicu kekhawatiran di tengah masyarakat.

Di media sosial, pelemahan rupiah ramai dikaitkan dengan isu melemahnya daya beli, ancaman kenaikan harga barang impor, hingga kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional.

Di tengah derasnya sentimen negatif tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor global dan bukan semata-mata persoalan domestik.

Otoritas moneter menyebut penguatan dolar AS masih terjadi akibat tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury yang membuat investor global memindahkan dana ke aset aman berbasis dolar.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik internasional serta kenaikan harga energi dunia juga memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Bank Indonesia juga menyoroti faktor musiman yang rutin terjadi setiap tahun pada periode April hingga Juni. Pada masa tersebut, kebutuhan devisa meningkat untuk pembayaran impor, aktivitas korporasi, dan berbagai transaksi internasional lainnya.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kondisi tersebut bukan fenomena baru dan hampir selalu muncul pada periode yang sama setiap tahun.

Menurut dia, tekanan musiman diperkirakan mulai mereda pada semester kedua 2026 sehingga memberi ruang bagi penguatan rupiah.

BI Naikkan Dosis Intervensi

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI mengklaim telah melakukan langkah intervensi secara agresif di pasar keuangan.

Intervensi dilakukan melalui pasar valuta asing, transaksi spot, lindung nilai, hingga forward. Selain itu, BI juga memperkuat instrumen moneter dan melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) guna menjaga stabilitas pasar.

Perry memastikan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level aman dan berada di atas standar Assessing Reserve Adequacy (ARA) yang ditetapkan Dana Moneter Internasional (IMF).

Adapun skor metrik ARA Indonesia saat ini disebut masih berada di atas 100, atau melewati batas bawah aman minimum.

“Jadi, kami pastikan cadangan devisa lebih dari cukup. Masih lebih dari cukup, sehingga dosis intervensinya kami naikkan,” ujar Perry dalam Rapat Kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin, 18 Mei 2026.

Tak hanya itu, BI juga meningkatkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi 6,41 persen guna menarik arus modal asing masuk ke pasar domestik.

Kebijakan tersebut dinilai cukup efektif menopang pasokan devisa di dalam negeri. Hingga 18 Mei 2026, arus masuk modal bersih melalui SRBI tercatat mencapai USD 105,16 miliar secara tahun kalender.

“Kenapa kami meningkatkan bunga SRBI? Supaya net inflow masih terjadi. Alhamdulillah itu mencatat inflow, sehingga menambah pasokan valas di dalam negeri,” tambahnya.

Rupiah Diproyeksi Menguat Lagi

Meski tekanan terhadap rupiah masih berlangsung, BI tetap optimistis nilai tukar rupiah dapat kembali menguat pada Juli hingga Agustus 2026.

Optimisme tersebut didasarkan pada proyeksi meredanya tekanan musiman, membaiknya arus modal asing, serta fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih stabil.

BI bahkan memperkirakan rupiah berpotensi kembali bergerak menuju kisaran Rp16.500 per dolar AS apabila tekanan eksternal mulai berkurang.

Pernyataan itu sekaligus menjadi penegasan bahwa pelemahan rupiah saat ini belum mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

BI Ingatkan Publik Jangan Terjebak Angka Harian

Bank Indonesia juga mengingatkan publik agar tidak menilai kondisi ekonomi nasional hanya berdasarkan pergerakan kurs harian yang viral di media sosial.

Menurut BI, kondisi ekonomi harus dilihat secara menyeluruh melalui berbagai indikator seperti inflasi, cadangan devisa, pertumbuhan ekonomi, stabilitas sistem keuangan, hingga neraca perdagangan.

Otoritas moneter masih meyakini nilai tukar rupiah sepanjang 2026 berada dalam rentang asumsi APBN, yakni sekitar Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS.

Karena itu, narasi yang menyebut pelemahan rupiah sebagai tanda Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi dinilai belum mencerminkan kondisi sebenarnya.

Di sisi lain, sejumlah indikator makro masih menunjukkan kondisi yang relatif stabil, termasuk inflasi yang terkendali dan sistem keuangan yang terus dipantau pemerintah bersama otoritas terkait.

Selain intervensi pasar, BI juga memperluas transaksi yuan-rupiah di pasar domestik untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

BI juga akan menurunkan batas pembelian dolar AS tunai tanpa underlying dari sebelumnya USD 50 ribu menjadi USD 25 ribu per pelaku per bulan mulai Juni mendatang.

“Hal ini kami lakukan supaya yang beli dolar AS adalah yang betul-betul membutuhkan,” pungkas Perry.

megapolitanco
Editor