Megapolitan.co – Situasi Aceh kini berada di titik paling rapuh. Banjir bandang dan longsor yang menyapu Aceh Utara, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Timur, hingga Aceh Selatan bukan hanya memutus jalan, tetapi meretakkan keteguhan rakyat yang tengah berjuang menyelamatkan hidup.
Para bupati pun akhirnya menyerah pada kenyataan, bahwa mereka tak lagi mampu mengatasi krisis ini tanpa bantuan negara.
Surat resmi telah ditandatangani, menegaskan keterbatasan sumber daya, logistik yang tersendat, dan medan bencana yang nyaris mustahil ditembus.
Di tengah kekacauan itu, peringatan HUT Gerakan Aceh Merdeka (GAM), 4 Desember 2025, muncul seperti bayang-bayang lama yang kembali mengetuk pintu.
Saat Aceh masih dikepung lumpur dan air bah, sebagian pihak yang seolah kehabisan rasa empati, justru menyerukan pengibaran bendera.
Hal ini menjadi sorotan banyak pihak, salah satunya pengamat intelijen Kolonel Purn Sri Radjasa Chandra, yang puluhan tahun bertugas di Aceh.
Ia mengingatkan, bahwa momentum milad GAM tahun ini tidak boleh menjadi bara baru di tengah musibah besar.
“Peringatan milad GAM pada 4 Desember 2025, pasca bencana alam, hendaknya dijadikan momentum introspeksi dalam menata kembali kehidupan rakyat Aceh yang lebih mengedepankan kepedulian terhadap keseimbangan ekosistem,” ujarnya, Kamis (4/12/2025).
Peringatan yang biasanya bermuatan simbolik kini harus dibaca sebagai ujian moral. Bukan tentang bendera, bukan tentang identitas, melainkan tentang apakah Aceh mampu menempatkan sisi kemanusiaan di atas segala agenda.
Sri Radjasa kembali menegur keras seruan pengibaran bendera GAM yang muncul di tengah derita warga.






Tinggalkan Balasan