Megapolitan.co – Di sebuah sudut timur Indonesia, di bawah terik matahari Alor yang membakar kulit dan menyesakkan napas, pernah berdiri ruang-ruang kelas yang lebih mirip tempat bertahan daripada tempat belajar.
Dindingnya tipis, atap sengnya memerangkap panas, dan setiap hembusan angin membawa kekhawatiran: apakah hari ini bangunan itu masih akan berdiri?
Dari ruang sederhana itulah, Ferona Keren Balol, siswi SMA Negeri 3 Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), menulis sebuah surat. Bukan surat panjang dengan kata-kata rumit, melainkan rangkaian kalimat jujur yang lahir dari pengalaman sembilan tahun menahan keterbatasan.
Surat itu ditujukan kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Isinya bukan keluhan yang meledak-ledak, melainkan ungkapan syukur yang menggetarkan.
“Ada rasa bangga dan juga terharu dalam lubuk hati yang paling dalam. Karena kurang lebih 9 tahun perjalanan, sekolahku masih menyeka keringat dan air mata,” tulis Ferona dalam salah satu paragrafnya.
Sekolah yang berdiri sejak 2016 itu bukan hanya jauh dari pusat kota, tetapi juga seperti terpinggirkan dari perhatian. Gedung yang layak tak kunjung hadir.
Para siswa belajar dalam bayang-bayang tembok rapuh yang sewaktu-waktu bisa roboh. Setiap hari adalah perjuangan: melawan panas, melawan rasa takut, dan melawan kenyataan bahwa fasilitas pendidikan belum berpihak sepenuhnya pada mereka.
Terik matahari Alor yang terkenal menyengat seolah menambah beban. Dinding tripleks tak kuasa membendung panas. Atap seng tanpa langit-langit membuat hawa menyusup dan mengurung ruang kelas dalam suhu yang menyiksa. Belajar menjadi aktivitas yang menguji fisik sekaligus mental.
Program Revitalisasi Sekolah menyentuh SMA Negeri 3 Kalabahi. Bangunan yang dulu rapuh kini berdiri kokoh. Pintu terpasang kuat, dinding tak lagi bergetar, langit-langit dan atap menahan panas dengan lebih baik.
Di dalamnya, meja, kursi, dan papan tulis tertata rapi—fasilitas yang bagi sebagian orang mungkin biasa, tetapi bagi mereka adalah anugerah luar biasa.
“Tapi, terima kasih karena rintihan dan keluhan kami akhirnya didengar. Ada harapan baru bagi sekolah kami bisa mendapatkan bantuan dana revitalisasi untuk tempat belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan di kelas baru,” tulis Ferona.
Surat itu bukan sekadar ucapan terima kasih. Ia adalah kesaksian tentang bagaimana sebuah kebijakan dapat menjelma menjadi harapan nyata di ruang-ruang kelas pelosok negeri.
Di akhir suratnya, Ferona menutup dengan doa dan kerinduan yang sederhana, namun dalam.
“Sehat selalu ya, Bapak. Negeri Ini masih sangat membutuhkan Bapak. Orang baik, berhati mulia. Rindu kami Bapak dapat menginjakkan kaki di sekolah yang sudah Bapak dirikan ini. Peluk hangat dari kami,” kata Ferona menutup suratnya.
Dari Alor, suara itu mengalir, lirih namun tegas, menandai bahwa di balik bangunan yang kini kokoh, ada air mata, perjuangan, dan harapan yang akhirnya menemukan jawabannya.






Tinggalkan Balasan