“Seruan pengibaran bendera GAM di tengah penderitaan rakyat Aceh akibat bencana alam tentu menjadi tidak bijak, mengingat saat ini rakyat Aceh jauh lebih membutuhkan sandang dan pangan,” tegasnya.

Suara intelijen ini menjadi penanda, bahwa Aceh tak boleh terseret ke arah yang salah pada saat yang paling rapuh.

Saat ini yang dibutuhkan rakyat Aceh adalah tempat bersandar, sikap peduli dan bahu membahu mengatasi bencana yang telah merenggut tak hanya barang berharga mereka, tapi juga sanak keluarga tercinta.

Di sisi lain, Gubernur Aceh, Mualem, tak mampu menyembunyikan emosinya ketika menyaksikan kerusakan yang oleh sebagian warga disebut sebagai “tsunami kedua”.

Infrastruktur runtuh, akses vital terputus, dan ribuan warga terjebak tanpa bantuan. Ia pun menyerukan persatuan dan kedewasaan politik seluruh pihak, agar bencana ini tidak dimanfaatkan sebagai panggung kepentingan kelompok.

Begitu pula eks kombatan GAM yang turut menyerukan hal senada, mendesak pendukung mereka membantu TNI-Polri dan pemerintah menjaga stabilitas serta mempercepat proses evakuasi dan penyaluran bantuan.

Sementara ditengah dinamika ini, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memastikan pemerintah pusat turun tangan penuh.

Bantuan logistik diterbangkan dari Jakarta dan Medan menggunakan jalur udara, satu-satunya rute yang masih memungkinkan menembus wilayah-wilayah terisolasi.

Ketika Aceh masih terendam derita, bentuk penghormatan paling sejati kepada para pendiri GAM bukanlah perayaan, melainkan solidaritas.

Membantu sesama, menjaga perdamaian, dan mengutamakan keselamatan rakyat adalah sikap yang jauh lebih mencerminkan nilai perjuangan.

Rakyat Aceh hari ini sedang berjuang untuk bertahan. Mereka tidak membutuhkan simbol untuk dikibarkan, tetapi tangan untuk saling mengangkat dan menopang.

Ronnie Sahala
Editor