Megapolitan.co – Wacana pembangunan 1.000 bioskop desa yang disebut masuk pembahasan RAPBN 2027 memicu perdebatan luas di media sosial.

Sebagian masyarakat mempertanyakan urgensi pembangunan fasilitas hiburan di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan publik, mulai dari ancaman PHK, lemahnya daya beli, hingga kenaikan harga kebutuhan pokok.

Perdebatan makin ramai karena isu bioskop desa muncul bersamaan dengan berbagai tuntutan terhadap kebutuhan dasar yang dinilai lebih mendesak, seperti kesejahteraan guru honorer, perbaikan fasilitas pendidikan, penanganan stunting, pembangunan irigasi pertanian, layanan kesehatan, hingga penguatan literasi masyarakat.

Meski begitu, pembahasan mengenai 1.000 bioskop desa hingga kini masih berada pada tahap usulan awal di Panitia Kerja (Panja) Kreativitas dan Distribusi Film Nasional Komisi VII DPR RI. Wacana tersebut juga belum menjadi keputusan resmi pemerintah maupun masuk dalam pengesahan APBN 2027.

Dengan demikian, sampai saat ini belum ada keputusan final terkait alokasi anggaran, proyek pembangunan, ataupun pelaksanaan program nasional pembangunan bioskop desa.

Dorong Perfilman Daerah dan Distribusi Karya Lokal

Gagasan bioskop desa muncul dalam pembahasan penguatan ekosistem perfilman nasional, khususnya untuk membuka akses distribusi bagi sineas daerah dan rumah produksi kecil.

Selama ini, banyak pelaku industri film lokal dinilai kesulitan memperoleh ruang tayang di jaringan bioskop besar yang didominasi film komersial berskala nasional maupun internasional.

Melalui usulan tersebut, DPR menilai perlu ada pemerataan akses distribusi agar film bertema budaya lokal, dokumenter, hingga karya kreatif komunitas daerah bisa menjangkau penonton lebih luas.

Karena itu, pembahasan bioskop desa tidak hanya dipandang sebagai pembangunan gedung hiburan semata, tetapi juga bagian dari penguatan industri kreatif nasional.

DPR Soroti Ketimpangan Distribusi Film

Dalam rapat Panja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional, sejumlah anggota Komisi VII DPR RI menyoroti perlunya pembenahan tata kelola industri perfilman Indonesia, termasuk distribusi film dan regulasi yang dinilai belum berpihak pada rumah produksi kecil.

Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Gerindra, Rahmawati, mengusulkan adanya dukungan anggaran dan insentif bagi rumah produksi daerah yang selama ini memiliki keterbatasan akses tayang.

“Mungkin lintas mitra mungkin siapkan insentif fiskal untuk PH-PH kecil dan daerah dan alokasikan anggaran 1.000 layar bioskop desa atau dari APBN 2027. Ini saran biar PH kecil itu bisa hidup,” katanya dalam Rapat Dengar Pendapat Panitia Kerja (Panja) Kreativitas dan Distribusi Film Nasional bersama Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (20/05/2026), sebagaimana diberitakan Koran Jakarta, Kamis (21/05/2026).

Selain persoalan distribusi, DPR juga menyoroti perlunya evaluasi regulasi perfilman agar lebih relevan dengan perkembangan industri kreatif dan transformasi digital saat ini.

Pembahasan tersebut mencakup penguatan rumah produksi daerah, pemerataan distribusi karya lokal, hingga peningkatan daya saing industri kreatif nasional.

Pemerintah Fokus pada Prioritas RAPBN 2027

Di sisi lain, pemerintah saat ini masih memusatkan pembahasan RAPBN 2027 pada sejumlah agenda prioritas nasional, seperti stabilitas ekonomi, pendidikan, perlindungan sosial, ketahanan pangan, pembangunan infrastruktur, dan layanan publik.

Karena itu, wacana pembangunan 1.000 bioskop desa sejauh ini belum tercatat sebagai program prioritas resmi pemerintah dalam dokumen RAPBN 2027.

Posisinya masih sebatas usulan dan bahan diskusi di lingkungan legislatif terkait pengembangan industri perfilman nasional.

Publik Diminta Bedakan Usulan dan Program Resmi

Ramainya polemik di media sosial menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap arah penggunaan anggaran negara. Namun, publik juga perlu membedakan antara usulan yang masih dibahas di DPR dengan program yang sudah resmi diputuskan pemerintah dan disahkan dalam APBN.

Hingga kini, wacana 1.000 bioskop desa belum memasuki tahap implementasi, belum memiliki pengesahan anggaran, dan masih menjadi bagian dari diskusi penguatan distribusi film nasional.

Ke depan, kelanjutan pembahasannya diperkirakan akan bergantung pada kebutuhan industri kreatif, prioritas fiskal pemerintah, serta dinamika penyusunan RAPBN 2027.

megapolitanco
Editor