Megapolitan.co – Seolah tak mau kalah dari aksi Dedi Mulyadi yang pergi ke daerah bencana, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto buru-buru terbang menemui para korban di Sumatera Barat.

Namun alih-alih mendapat apresiasi, langkah Tri justru memantik kritik, apakah murni bentuk kepedulian, atau sekadar menyelamatkan citra di tengah gempuran kritik terhadapnya?

Ketua Forum Komunikasi Intelektual Muda Indonesia (Forkim), Mulyadi menilai keberangkatan Tri bukan murni agenda kemanusiaan, melainkan manuver politik yang dibangun untuk menutupi sederet kontroversi yang mewarnai pemerintahannya.

Mulyadi menegaskan berbagai persoalan dalam beberapa bulan terakhir telah menggerus kepercayaan publik terhadap Tri Adhianto.

Mulai dari mutasi pejabat yang dinilai ugal-ugalan, pelantikan mantan narapidana kasus narkoba, hingga isu flexing tas mewah ratusan juta yang menyeret nama istrinya.

“Dalam kondisi seperti ini, keberangkatan wali kota ke Sumut justru tampak seperti manuver mencari panggung. Apalagi momen bencana sedang menjadi sorotan masyarakat Indonesia yang dilakukan beberapa aktor politikus nasional. Yang terlihat bukan kepedulian, tetapi keinginan untuk berada dalam frame kamera seakan-akan sangat peduli terhadap korban,” ujarnya, Sabtu (6/12/2025).

Mulyadi berujar, momentum bencana kerap dijadikan etalase pencitraan oleh sejumlah pejabat, dan Tri Adhianto dinilai menunjukkan pola serupa.

Publik pun jadi bertanya-tanya, bagaimana mungkin Tri begitu sibuk ke luar daerah ketika kondisi di Bekasi sendiri semakin memprihatinkan.

Menurutnya, bila benar tujuan utamanya untuk membantu korban, wali kota memiliki banyak opsi tanpa harus meninggalkan tanggung jawab di kotanya.

“Wali kota dapat mengirimkan tim medis, BPBD, atau unsur SAR dari Kota Bekasi tanpa harus meninggalkan kota yang kini sedang menghadapi banyak masalah. Yang terjadi justru sebaliknya. Kota ditinggalkan sementara berbagai persoalan belum terselesaikan,” ujarnya.

Ronnie Sahala
Editor