Di tengah penanganan pengungsi, pemerintah juga mempercepat pemulihan fasilitas kesehatan yang terdampak bencana. Hingga pertengahan Desember, sebanyak 41 rumah sakit dan 343 puskesmas di wilayah Sumatera dilaporkan mulai kembali beroperasi secara bertahap.
Meski jumlah pengungsi mulai menunjukkan tren penurunan, pemerintah menegaskan kewaspadaan tetap menjadi prioritas. Fokus utama berikutnya adalah mencegah munculnya wabah penyakit di lokasi pengungsian, terutama di area tenda darurat dengan tingkat kepadatan tinggi.
Melalui koordinasi lintas kementerian serta dukungan TNI, pemerintah memastikan layanan kesehatan bagi para pengungsi tetap berjalan hingga fase rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dapat dilaksanakan secara optimal.
Jumlah Pengungsi Bencana Membludak
Pemerintah pusat meningkatkan respons kesehatan menyusul membeludaknya jumlah pengungsi akibat bencana di Pulau Sumatera. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga 12 Desember 2025, total pengungsi mencapai 884.889 jiwa yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sementara korban meninggal dunia tercatat sebanyak 995 orang.
BNPB menyebut, jumlah warga terdampak sempat melonjak drastis pada 8 Desember 2025 dan menembus angka lebih dari satu juta jiwa.
Kondisi ini menjadi perhatian khusus Presiden RI Prabowo Subianto saat memimpin rapat terbatas dalam kunjungan kerjanya ke Aceh pada 7 Desember.
Situasi darurat dengan jumlah pengungsi masif tersebut memaksa pemerintah mempercepat berbagai langkah antisipasi, terutama untuk menekan potensi krisis kesehatan di kawasan pengungsian.






Tinggalkan Balasan