Megapolitan.co – Simpang lampu merah Air Itam, Jumat, 9 Agustus 2025 pagi, berubah jadi panggung nasionalisme. Di bawah terik matahari, personel Direktorat Lalu Lintas Polda Bangka Belitung menebar ratusan bendera Merah Putih lewat aksi “Polantas Menyapa” untuk menyambut HUT ke-80 Republik Indonesia.
Tidak sekadar dibagikan, bendera itu ditempel langsung di spion, kap mobil, hingga keranjang motor warga. Dari pengemudi ojek online, pedagang kecil, hingga ibu-ibu pengantar anak sekolah, semua kebagian simbol kebanggaan nasional ini.
“Bagi-bagi bendera ini kita laksanakan dalam rangka menyambut 17 Agustus, hari kemerdekaan negara kita Indonesia,” kata Dirlantas Kombes Pol Pringadhi Supardjan yang memimpin langsung aksi tersebut.
Alih-alih hanya seremoni, pembagian bendera ini dimaknai sebagai “serangan balik” melawan apatisme, menumbuhkan kesadaran, dan menghidupkan kembali semangat cinta tanah air, langsung di jalan raya.
“Kami juga izin memasangkan langsung di kendaraan masyarakat. Supaya ini juga semakin menumbuhkan rasa nasionalisme kita untuk NKRI,” ujar Pringadhi.
“Kami sampaikan imbauan juga. Pakai helm, cek kendaraan, patuhi aturan. Karena nasionalisme bukan hanya kibarkan bendera, tapi juga patuh hukum,” imbuhnya.
Menurut Pringadhi, aksi di Air Itam hanyalah satu titik dari gerakan serentak di seluruh wilayah hukum Polda Babel. Seluruh Satlantas Polres kabupaten/kota ikut menebar bendera sekaligus pesan persatuan.
“Kami ingin jadikan HUT ke-80 RI ini sebagai momentum untuk menumbuhkan semangat persatuan, dan juga kesadaran untuk tertib berlalu lintas,” ungkapnya.
Banyak pengendara yang semula mengira akan ada razia. Namun setelah mengetahui aksi yang dilakukan para polisi, mereka pun menyambut antusias.
“Awalnya saya kira razia, ternyata dikasih bendera. Ini baru polisi keren,” kata Reza (28), warga Bukit Intan.
Sebagian pengendara, bahkan sampai meminta dua bendera, satu untuk spion kendaraan dan satu lagi dibawa pulang.
“Kalau polisi santun dan dekat seperti ini, rakyat pasti lebih nurut. Ini bukan cuma tentang bendera, tapi juga soal rasa dihargai,” tambahnya.
Aksi ini mematahkan stigma polisi lalu lintas yang identik dengan tilang. Kali ini, mereka hadir untuk mengingatkan nilai, bukan menakut-nakuti. Wajah pengendara yang semula lelah, berubah ceria. Beberapa bahkan mengangkat jempol dan berfoto bersama petugas.
Bendera kecil di spion mungkin hanya selembar kain, tapi pagi itu ia menjelma jadi pengingat moral: bahwa merdeka bukan sekadar upacara, melainkan kebiasaan menghormati aturan, menjaga persatuan, dan saling menghargai.






Tinggalkan Balasan