Megapolitan.co – Di tengah kondisi infrastruktur yang memprihatinkan, seorang guru sekolah dasar di pelosok Banten menunjukkan arti sesungguhnya dari dedikasi.
Armani, satu-satunya pengajar di SDN Sorongan 2 Kelas Jauh, Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, telah mengabdikan diri sejak 2008 untuk memastikan anak-anak di daerah terpencil tetap mendapatkan pendidikan.
Setiap pagi, Armani menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer menuju sekolah. Rutenya bukan jalan biasa.
Ia harus melintasi dua sungai tanpa jembatan layak. Salah satunya hanya menggunakan jembatan bambu hasil swadaya warga setempat.
“Saya sudah mengajar di sini sejak 2008. Walaupun serba terbatas, semangat belajar anak-anak selalu membuat saya bertahan,” ujar Armani, Guru SDN Sorongan 2, Selasa (25/11/2025).
Sesampainya di sekolah, fasilitas yang tersedia jauh dari kata layak. Bangunan kelas tampak memudar oleh waktu. Lantai keramik banyak yang terlepas, plafon rusak di sejumlah bagian, hingga tidak adanya toilet sejak sekolah tersebut berdiri. Meski begitu, proses belajar mengajar tetap berlangsung setiap hari.
Di tengah kondisi serba kekurangan, antusiasme para siswa justru menjadi penguat bagi sang guru. Muhamad Pahmi, siswa kelas 6, mengatakan ia dan teman-temannya selalu semangat datang ke sekolah.
“Kami ingin terus belajar. Kami berharap Pak Armani selalu diberi kesehatan dan tetap mengajar kami,” kata Pahmi.
Kisah Armani menjadi potret nyata masih banyaknya sekolah di daerah terpencil yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah, baik dalam aspek infrastruktur maupun pemenuhan tenaga pendidik.
Namun di balik keterbatasan itu, dedikasi seorang guru tetap menyala untuk mencerdaskan generasi di pelosok Pandeglang.






Tinggalkan Balasan