Megapolitan.co – Aksi demonstrasi yang melibatkan kelompok ibu rumah tangga dan mahasiswa berlangsung di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Kamis, 11 Juni 2026.

Aksi tersebut menjadi sorotan publik setelah sejumlah dokumentasinya ramai beredar di media sosial.

Melalui unggahan akun Instagram @heybandoeng Jumat, 12 Juni 2026, disebutkan bahwa kegiatan penyampaian aspirasi tersebut berlangsung tertib dan damai.

“BBM naik, rupiah melemah, program MBG disorot. Aksi berlangsung damai,” tulis postingan tersebut, dikutip Minggu (14/6/2026).

Dalam aksi tersebut, sejumlah ibu rumah tangga menarik perhatian karena membawa perlengkapan memasak dan mengolah makanan di lokasi demonstrasi.

Aksi simbolik itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap pelaksanaan Penerimaan Calon Murid Baru (PCMB) 2026 di Jawa Barat yang dinilai menyulitkan sebagian masyarakat.

Salah seorang peserta aksi, Neni Suhaeni, terlihat memasak cireng dan menyiapkan kopi untuk para demonstran.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan simbol perjuangan orang tua yang menginginkan akses pendidikan yang lebih merata bagi anak-anak mereka.

“Ini kan kita lagi memperjuangkan hak anak orang miskin, anak-anak yang juga mau sekolah masuk sekolah negeri,” tegas Neni.

Ia menjelaskan bahwa aksi memasak yang dilakukan para ibu bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi peserta demonstrasi, melainkan sebagai bentuk penyampaian aspirasi atas persoalan pendidikan yang mereka hadapi.

“Ya salah satu bentuk protes, kita harusnya memasak di rumah, kita dibawa ke sini,” ungkapnya.

“Kita ibu-ibu, jangan sampai gitu lah direpotkan untuk seperti ini. Kita inginnya kita memasak untuk anak-anak di rumah,” imbuh Neni.

Neni juga mengaku menerima banyak keluhan dari orang tua terkait proses PCMB 2026. Menurutnya, terdapat sejumlah calon peserta didik yang memilih sekolah negeri, namun dalam sistem justru diarahkan ke sekolah swasta.

“Padahal pilihan anaknya SMA negeri dan SMK negeri. Tapi dari sistem malah diarahkan ke SMK swasta, tanpa ada pilihan lain,” jelasnya.

Selain kelompok ibu rumah tangga, aksi tersebut juga diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung.

Mereka menyuarakan sejumlah isu nasional, mulai dari kenaikan harga bahan bakar minyak hingga pelemahan nilai tukar rupiah.

Mahasiswa menyoroti kenaikan harga Pertamax yang mencapai Rp16.250 per liter sejak 10 Juni 2026. Mereka juga menyampaikan tuntutan terkait kebijakan ekonomi dan pendidikan.

Koordinator FMN Bandung Raya, Ainul Mardhiyah, mengatakan salah satu tuntutan utama mahasiswa adalah mendorong reformasi industrialisasi nasional sebagai langkah untuk mengatasi berbagai persoalan ekonomi yang terjadi saat ini.

“Selain itu, mahasiswa mendesak penghentian program MBG yang dinilai bermasalah, serta menuntut pendidikan gratis,” terangnya.

Mahasiswa menyatakan akan kembali menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar apabila tuntutan yang disampaikan belum memperoleh tanggapan dari pihak terkait.