Megapolitan.co – Aktivitas dapur SPPG Ramadana, Kecamatan Laura, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, siang itu berjalan seperti biasa.
Di meja persiapan, Frederick Norewa sibuk memotong bahan makanan, seperti ayam, wortel, buncis, kacang panjang, hingga tempe, yang nantinya diolah menjadi ribuan porsi menu MBG.
“Saya potong-potong ayam kalau ada menu ayamnya, terus wortel, kacang panjang, buncis, tempe. Bawang ada juga, bawang putih, bawang merah,” ujarnya, Jumat, 13 Februari 2026.
Frederick merupakan bagian dari tim persiapan dapur MBG. Perannya memang di balik layar, tetapi dari pekerjaannya, proses penyediaan makanan bergizi dimulai.
Namun perjalanan hidupnya tidak selalu setenang itu. Ia pernah menjalani masa kelam setelah terjerat kasus penganiayaan berat pada 1991, dipicu sengketa batas tanah dengan kerabatnya. “Itu masalah perbatasan tanah. Bukan karena ekonomi,” katanya.
Perselisihan yang awalnya hanya adu mulut berubah menjadi konflik serius. “Yang pertama itu kita masih sempat bersilat lidah, terus kita masih baku ancam, payu kudung, terus kali ketiga itu sempat terjadinya kriminal itu. Mereka ada empat orang. Saya sendirian. Saya takut, begitu saya ayun langkah, satu kali. Tangannya putus,” jelasnya.
Pengadilan menjatuhkan hukuman delapan tahun penjara. Setelah mengajukan keringanan dan mendapat remisi, ia menjalani hukuman selama empat tahun enam bulan.
Kini konflik itu telah diselesaikan secara adat, bahkan hubungan keluarga mereka kembali membaik.
“Kemarin sudah damai. Dengan satu ekor kuda dan satu ekor kerbau,” tuturnya datar.
Keluar dari penjara, Frederick tidak langsung mendapat kehidupan mudah. Ia kembali menggarap kebun dan sesekali bekerja sebagai tukang bangunan jika ada panggilan.
“Kalau kerja bangunan, Rp60 sampai 80 ribu per hari. Tapi itu pun kalau ada panggilan,” ungkapnya.
Penghasilan dari kebun pun tak menentu. “Setahun paling sekitar Rp 7–8 juta. Itu pun kalau panennya bagus. Alam yang berkuasa.” paparnya.
Label mantan narapidana membuatnya sulit memulai lagi. “Secara pribadi memang sulit. Tapi apapun dan bagaimanapun, saya jalani,” katanya.
Kesempatan dari Dapur MBG
Perubahan datang ketika sebuah bangunan dapur MBG berdiri tak jauh dari rumahnya.
Frederick memberanikan diri melamar pekerjaan dan diterima sebagai tenaga persiapan dapur.
“Sekalipun saya mantan narapidana, saya bersyukur masih diterima bekerja di sini,” ucapnya.
Sejak bekerja di dapur MBG, ia merasakan kepastian penghasilan bulanan, sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.
“Kalau di kebun, saya tidak tahu, alam yang berkuasa. Di sini saya hanya menunggu kapan menerima insentif,” ujarnya dengan senyum tipis.
Lebih dari sekadar penghasilan, ia merasa bangga ikut menyiapkan makanan untuk siswa, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Meski anaknya sendiri belum menjadi penerima manfaat, Frederick memahami betul kondisi anak-anak di kampungnya.
“Kadang anak-anak makan atau enggak, mereka jalan saja pergi sekolah. Dan itu membuat anak jadi lemah, bahkan pingsan,” katanya.
Setelah program MBG berjalan, ia melihat perubahan suasana di lingkungan sekitar.
“Mungkin lewat adanya sentuhan MBG ini, ya saya rasa anak itu senang. Senang sekali. Dan bahkan kita orang tua juga sangat senang,” ujarnya.
Di dapur itulah Frederick merasa bukan hanya memotong bahan makanan, tetapi juga ikut berkontribusi memutus rantai kekurangan gizi di desanya.
“Secara pribadi, ucapan limpah terima kasih bagi Pak Presiden Prabowo Subianto lewat adanya program MBG ini. Harapan saya, setelah masa Pak Prabowo, siapapun presidennya program ini akan tetap berkelanjutan,” ujarnya.
Bagi Frederick, dapur MBG bukan sekadar tempat mencari nafkah. Di sana ia menemukan kesempatan kedua untuk berdamai dengan masa lalu dan menata kembali masa depan.






Tinggalkan Balasan