Megapolitan.co – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada penerima manfaat seperti siswa, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga yang terlibat di dapur layanan.
Hal inilah yang dirasakan langsung oleh Kristina Lende, warga Desa Watu Kawula, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.
Kristina bekerja sebagai pencuci ompreng di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Watukaula. Ia mengaku kehidupannya berubah sejak bergabung dalam program tersebut.
“Selama saya kerja di MBG, saya sudah pernah beli motor pada tanggal 8 Februari kemarin tahun ini. Itu dari hasil kerja saya dari MBG. Dan sebelum saya kerja di MBG, saya mau beli beras 1 kilo pun, saya susah sekali,” katanya, Jumat, 13 Februari 2026.
Sebelum bekerja di MBG, Kristina hanya mengandalkan penghasilan suaminya yang bekerja di perusahaan telasi dengan upah sekitar Rp50 ribu per hari. Ia juga tidak memiliki usaha sampingan maupun bantuan sosial dari pemerintah.
“Semenjak saya kerja di MBG, saya sudah bisa beli beras 20 kilo, bahkan 50 kilo pun sudah bisa saya beli. Dan buat lauk-lauk anak-anak saya di rumah, dan buku penanya anak-anak saya di rumah,” sambung Kristina.
Motor yang dibelinya kini membantu aktivitas keluarga, termasuk mendukung kebutuhan sekolah anak-anaknya. Ia memiliki tiga anak.
Anak sulung duduk di kelas VII SMP sudah menerima manfaat MBG, sementara dua lainnya yang masih SD disebut segera menyusul.
Menurutnya, program MBG memberi dampak nyata bagi ekonomi keluarganya.
“Sekali lagi saya terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto yang melakukan program ini. Ke depannya mudah-mudahan akan lebih maju dan lebih baik lagi,” imbuhnya.
Di sisi lain, Kristina berharap pemerintah juga meninjau kembali data bantuan sosial. Ia merasa hasil pendataan belum mencerminkan kondisi sebenarnya.
“Anehnya waktu pendataan saya dikasih masuk desil 5, terus rumah yang mewah-mewah di tetangganya saya, yang punya mobil ini yang dikasih masuk desil 1,” ujarnya.
Setiap hari Kristina bekerja di bagian pencucian ompreng mulai pukul 10.00 hingga sekitar pukul 20.00 atau 21.00, tergantung pekerjaan selesai. Walau melelahkan, ia tetap bersyukur memiliki penghasilan tetap.
“Ya capek juga, tapi namanya kita cari uang. Namanya kita cari uang ya harus berjuang kan gitu. Daripada duduk-duduk di rumah, ngelamun bikin sakit badan,” tutupnya.






Tinggalkan Balasan