Megapolitan.co – Suasana berbeda terasa di sebuah ruang kelas sederhana di Pulau Serasan, Kabupaten Natuna, siang itu.

Anak-anak TK duduk tertib di bangku masing-masing, menanti pembagian ompreng berisi menu makan bergizi gratis (MBG).

Wajah-wajah polos itu tampak antusias ketika kotak makan mulai dibagikan satu per satu.

Pulau Serasan dikenal sebagai salah satu wilayah terluar di Kepulauan Riau yang masuk kategori tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Letaknya yang jauh dari pusat pemerintahan tak menghalangi penyaluran program pemenuhan gizi bagi anak-anak usia dini di wilayah perbatasan tersebut.

Menu yang tersaji siang itu terdiri dari mi bihun, telur orak-arik, tempe, sayuran, serta potongan buah segar.

Begitu tutup ompreng dibuka, anak-anak langsung menyantap hidangan mereka dengan lahap. Keceriaan pun memenuhi ruangan kelas.

“MBG-nya enak sekali,” ujar seorang bocah laki-laki sambil menggigit potongan melon.

Di bangku lain, seorang siswi berhijab tak kalah bersemangat menikmati makan siangnya. “Aku orang Minang, jadi makannya pakai tangan,” katanya lugu.

Program MBG di TK Negeri Serasan yang beralamat di Jalan Datuk Bane No. 45, Kampung Pelimpak, disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Serasan.

Dapur SPPG setempat mulai beroperasi sejak 5 Februari dan khusus untuk TK Negeri Serasan mendistribusikan 65 porsi setiap hari, terdiri dari 26 porsi untuk TK A dan 39 porsi untuk TK B.

Secara keseluruhan, SPPG Serasan memproduksi 1.013 porsi MBG per hari. Sebanyak 305 porsi kecil dialokasikan untuk siswa PAUD dan TK, sedangkan 708 porsi besar disalurkan kepada siswa tingkat SD hingga SMA.

Jangkauan distribusinya meliputi sejumlah sekolah di Pulau Serasan, mulai dari PAUD dan TK di Tanjung Balau, Pelimpak, serta Air Raya; SDN 01 Pelimpak, SDN 02 Air Sekain, SDN 03 Desa Hilir, SDN 04 Pangkalan, SDN 05 Tanjung Balau; SMPN 1 dan SMPN 2 Serasan, MTs Serasan; hingga SMAN 1 Serasan.

Di wilayah perbatasan yang aksesnya terbatas, kehadiran program ini disambut positif masyarakat.

Para orang tua merasa terbantu karena kebutuhan gizi anak lebih terjamin sekaligus mengurangi beban menyiapkan bekal setiap hari.

Bagi anak-anak Serasan, program tersebut mungkin terasa sederhana: makan bersama teman, menikmati menu hangat, dan kembali belajar dengan perut kenyang.

Namun di balik itu, tersimpan pesan lebih besar tentang pemerataan layanan gizi hingga ke beranda terluar Indonesia.

megapolitanco
Editor