Megapolitan.co – Kementerian Keuangan menepis kabar yang menyebut Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia hanya mampu bertahan selama tiga bulan.
Pemerintah menegaskan informasi tersebut tidak berdasar dan termasuk disinformasi yang beredar di ruang digital.
Isu ini sebelumnya ramai di media sosial dan menimbulkan kekhawatiran publik, terutama karena disertai klaim lain mengenai potensi pelemahan nilai tukar rupiah. Pemerintah memastikan narasi tersebut tidak berasal dari sumber resmi.
Melalui akun X resmi PPID Kementerian Keuangan (@PPIDKemenkeu), klarifikasi disampaikan untuk meluruskan informasi yang beredar.
“Berita yang beredar mengenai APBN RI hanya cukup untuk 3 bulan dan rupiah bisa menyentuh Rp20.000 per dollar AS merupakan berita hoaks,” tulis @PPIDKemenkeu, dikutip Jumat (24/4/2026).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turut membantah keras narasi tersebut dan menegaskan bahwa informasi itu tidak pernah disampaikan oleh pemerintah.
“Informasi tersebut tidak benar dan tidak pernah kami sampaikan. Itu disinformasi yang mencatut nama saya,” tegasnya.
Fiskal Dinilai Masih Dalam Kondisi Aman
Pemerintah menegaskan bahwa kondisi APBN saat ini masih berada dalam batas aman dengan dukungan berbagai instrumen fiskal.
Salah satunya adalah Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang mencapai sekitar Rp420 triliun sebagai cadangan negara.
Selain itu, terdapat likuiditas internal sekitar 25 miliar dolar AS yang dapat digunakan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional apabila diperlukan.
Dengan dukungan tersebut, pemerintah menilai ruang fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi dinamika ekonomi global.
Disiplin Defisit Jadi Pilar Kepercayaan Ekonomi
Pemerintah disebut tetap menjaga komitmen defisit APBN di bawah 3 persen sebagai bagian dari strategi untuk mempertahankan kredibilitas fiskal.
Batas defisit di bawah 3 persen dinilai merupakan sinyal kepada dunia bahwa Indonesia serius dalam menjaga stabilitas fiskal.
“Angka defisit itu bukan sekedar target tapi sinyal ke dunia kita serius atau tidak. Jadi dalam acara itu saya selalu utarakan bahwa itu adalah tekad dari Bapak Presiden kita, petunjuknya seperti itu kita tidak akan pernah menembus 3%,” ujar Purbaya di Gedung Juandal I, Jakarta, Selasa, 21 April 2026.
Kebijakan ini disebut penting untuk menjaga kepercayaan investor serta stabilitas ekonomi jangka panjang.
Defisit Dianggap Bagian Normal Pengelolaan Anggaran
Dalam perspektif ekonomi, defisit APBN dinilai sebagai instrumen yang umum digunakan dalam pengelolaan fiskal, bukan indikator krisis.
Defisit kerap dimanfaatkan untuk mempercepat belanja negara di awal tahun guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan pengelolaan yang hati-hati, defisit tetap berada dalam batas aman dan tidak mencerminkan kondisi darurat keuangan negara.
Pembiayaan Mandiri Jadi Sinyal Kekuatan Ekonomi
Pemerintah juga menegaskan bahwa Indonesia masih mampu memenuhi kebutuhan pembiayaan tanpa bergantung pada lembaga internasional seperti IMF maupun Bank Dunia.
Hal ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional dinilai cukup kuat dan tidak berada dalam tekanan krisis yang membutuhkan bantuan darurat eksternal.
Masyarakat Diimbau Tidak Mudah Terpengaruh
Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, khususnya yang beredar di media sosial tanpa verifikasi.
Di tengah derasnya arus informasi, literasi digital menjadi penting untuk mencegah munculnya kepanikan akibat kabar yang tidak akurat.
Dengan berbagai indikator yang ada, pemerintah kembali menegaskan bahwa kondisi APBN saat ini stabil, kuat, dan terkendali, sehingga narasi yang menyebut sebaliknya dipastikan tidak sesuai fakta.






Tinggalkan Balasan