Megapolitan.co – Insiden tertidurnya Direktur Utama Perumda Tirta Patriot Kota Bekasi, Ali Imam Faryadi, saat rapat pembahasan penyertaan modal bersama DPRD Kota Bekasi, masih menjadi perbincangan hangat publik.

Banyak yang menyayangkan peristiwa tersebut yang tak hanya bicara soal etika personal, tetapi menjadi cermin buruknya kultur kerja dan lemahnya wibawa lembaga pengawasan daerah.

Perilaku yang dianggap tidak pantas tersebut dinilai meremehkan forum resmi serta mencederai marwah DPRD sebagai representasi rakyat yang tengah membahas dana publik bernilai besar.

Direktur Eksekutif CBA (Center for Budget Analysis), Uchok Sky Khadafi, turut mengecam tindakan sang Dirut, terlebih di tengah rapat krusial.

“Ruang Rapat DPRD Kota Bekasi bukan tempat karaoke atau dugem. Jangan ada perilaku tidur-tiduran saat rapat pembahasan penyertaan modal Rp90 miliar sedang berlangsung,” tegasnya, Senin (1/12/2025).

Namun yang jauh lebih mengherankan, kata Uchok, justru muncul dari sikap sebagian anggota dewan yang dinilai kehilangan nyali untuk menegur Dirut Tirta Patriot. Beberapa bahkan tampak membela tanpa dasar yang kuat, alih-alih menunjukkan fungsi kontrol sebagaimana mandat DPRD.

Hal ini terlihat dari anggota DPRD Misbahudin yang dinilai memberikan pembelaan berlebihan terhadap Ali Imam Faryadi, langkah yang menimbulkan tanda tanya besar terkait objektivitas dan integritas pengawasan anggaran.

Padahal, menurut Uchok Sky, DPRD seharusnya berdiri di garis terdepan dalam menelaah permintaan penyertaan modal Rp90 miliar yang diajukan perusahaan pelat merah tersebut.

“Minta cash flow perusahaan, mintalah hasil audit laporan keuangan Tirta Patriot. Dengan begitu bisa diketahui potensi kebocoran dana Rp90 miliar berada di mana,” pungkasnya.

Kasus ini menegaskan kembali bahwa masalah bukan hanya ada pada pejabat yang tertidur, tetapi juga pada lembaga pengawas yang memilih diam.

megapolitanco
Editor