Megapolitan.co – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai kecerdasan dan sekolah menjadi perhatian publik, setelah potongan pidatonya dalam acara peluncuran dan bedah buku Bahlil Lahadalia, pada 7 Agustus 2026, beredar di media sosial.

Dalam acara yang digelar di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, tersebut, Prabowo membicarakan perjalanan Bahlil Lahadalia sekaligus menyampaikan pandangannya mengenai berbagai faktor yang berperan dalam membentuk kemampuan serta kualitas seseorang.

Potongan video yang beredar kemudian menimbulkan beragam tafsir di tengah masyarakat.

Sebagian pengguna media sosial menangkap pernyataan tersebut sebagai pandangan yang mempertanyakan arti penting sekolah dan perguruan tinggi.

Padahal, apabila pernyataan Presiden dilihat berdasarkan konteks keseluruhan acara dan pemberitaan yang muncul, pembahasannya lebih spesifik pada persoalan apakah nama besar sekolah atau kampus dapat dijadikan ukuran utama kecerdasan dan kualitas seseorang.

Potongan Video soal Kecerdasan Viral di Media Sosial

Cuplikan pernyataan Presiden Prabowo tersebar melalui sejumlah akun media sosial, termasuk akun X @txtdrimedia.

Penyebaran video dalam bentuk potongan pendek membuat pernyataan yang disampaikan Presiden berpotensi dipahami secara terpisah dari konteks pembicaraan sebelumnya maupun sesudahnya.

Karena itu, memahami latar acara serta keseluruhan isi pembicaraan menjadi penting agar masyarakat tidak terburu-buru menarik kesimpulan dari satu bagian video.

Laporan Kumparan mencatat Prabowo menyampaikan pandangannya saat menghadiri peluncuran dan bedah buku “10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia” di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Jumat, 7 Agustus 2026.

Dalam laporan tersebut, pembahasan Presiden mengenai kecerdasan berkaitan dengan perjalanan Bahlil Lahadalia dan capaian yang diraih sepanjang kehidupannya.

Memahami Konteks Pernyataan Prabowo tentang Kecerdasan

Pernyataan Presiden Prabowo perlu dipahami dalam konteks pembicaraan mengenai kualitas manusia dan latar belakang pendidikan yang dimiliki seseorang.

Kumparan mencatat Prabowo menyebut bahwa kecerdasan seseorang tidak ditentukan hanya berdasarkan tempat seseorang memperoleh pendidikan.

Untuk memperjelas pandangannya, Prabowo kemudian menjadikan perjalanan Bahlil Lahadalia sebagai contoh.

Prabowo mengatakan:

“Kecerdasan itu bukan dari sekolah. Kecerdasan bukan dari sekolah. Dan ini sudah kita buktikan berkali-kali. Hari ini, sekarang kita buktikan lagi Pak Bahlil.”

Kalimat tersebut memang secara literal memuat pernyataan “bukan dari sekolah”.

Karena itu, kutipan Presiden harus tetap disampaikan sesuai dengan apa yang benar-benar diucapkan dan tidak diubah menjadi kalimat lain.

Namun, konteks pemberitaan menunjukkan bahwa Prabowo sedang menekankan bahwa nama besar sekolah atau perguruan tinggi tidak secara otomatis menjamin kecerdasan maupun kualitas seseorang.

Detik juga melaporkan Prabowo dan Bahlil membahas bahwa kualitas individu tidak semata-mata dapat diukur dari nama besar kampus yang pernah menjadi tempat seseorang menempuh pendidikan.

Kemampuan, kerja keras, dan karakter juga menjadi unsur yang dibicarakan ketika membahas kualitas seseorang.

Dengan kata lain, pernyataan tersebut lebih menyoroti bagaimana seseorang mengembangkan kemampuan dirinya daripada sekadar melihat reputasi lembaga pendidikan yang tercantum dalam latar belakangnya.

Prabowo Mencontohkan Bahlil Lahadalia

Perjalanan Bahlil Lahadalia menjadi contoh yang digunakan Prabowo untuk menyampaikan pandangannya mengenai hubungan antara pendidikan dan kualitas individu.

Prabowo menyinggung latar belakang pendidikan Bahlil sekaligus reputasi kampus tempat Bahlil menempuh pendidikan.

Menurut Prabowo, nama besar sebuah institusi pendidikan tidak otomatis menjadi penentu keberhasilan maupun kualitas seseorang.

Dalam laporan Detik, Bahlil juga menyampaikan pandangan mengenai hubungan antara reputasi kampus dan kualitas individu.

“Karena tidak mutlak orang yang sekolahnya di kampus gede, lalu kemudian hanya mereka yang pantas untuk kita jadikan inspirasi. Karena bagi saya, kampus itu tidak menjamin kualitas seseorang.”

Bahlil kemudian menekankan bahwa kualitas seseorang pada akhirnya sangat dipengaruhi oleh individu tersebut.

“Yang menjamin kualitas seseorang, itulah orang itu sendiri.”

Dengan demikian, pembahasan yang disampaikan Prabowo dan Bahlil lebih tepat ditempatkan dalam konteks kualitas individu dibandingkan reputasi institusi pendidikan.

Hal tersebut berbeda dengan kesimpulan yang menempatkan pernyataan Presiden sebagai pertentangan antara pendidikan formal dan orang yang tidak berpendidikan.

Kecerdasan Tidak Hanya Dibentuk di Ruang Kelas

Pendidikan formal tetap memiliki peran penting dalam membangun sumber daya manusia.

Sekolah dan perguruan tinggi memberikan pengetahuan, keterampilan, literasi, serta kemampuan berpikir secara terstruktur kepada peserta didik.

Namun, pembentukan kemampuan dan karakter seseorang tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas.

Keluarga, lingkungan sosial, pengalaman hidup, pekerjaan, interaksi dengan masyarakat, serta berbagai persoalan yang dihadapi seseorang juga dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Karena itu, pendidikan formal dan pengalaman kehidupan seharusnya tidak diposisikan sebagai dua hal yang saling bertentangan.

Keduanya dapat berjalan berdampingan dan saling memperkuat dalam membentuk kemampuan, karakter, serta kapasitas seseorang.

Dalam konteks inilah pernyataan Prabowo dapat dipahami sebagai penekanan bahwa kualitas manusia tidak cukup dinilai hanya dari label atau reputasi institusi pendidikan.

Peran Orang Tua dalam Membentuk Kecerdasan

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo juga mengaitkan pembahasan mengenai kecerdasan dengan peran orang tua.

Detik mencatat Prabowo mengatakan:

“Kecerdasan itu mungkin didapat dari jelas dari orang tua.”

Pernyataan tersebut kemudian dikaitkan Prabowo dengan penghormatan terhadap seorang ibu.

“Jadi memang bagaimanapun ajaran agama kita ya, bahwa sorga ada di telapak kaki ibu, saya kira itu benar.”

Bagian tersebut menunjukkan bahwa pembahasan Presiden tidak berhenti pada sekolah dan perguruan tinggi.

Prabowo juga menyoroti keluarga sebagai lingkungan yang memiliki peran dalam proses pembentukan seorang anak.

Keluarga dan sekolah pada dasarnya memiliki fungsi yang berbeda, tetapi dapat saling mendukung dalam membentuk kualitas manusia.

Orang tua menjadi lingkungan awal dalam pembentukan nilai dan karakter, sementara sekolah memberikan pendidikan formal melalui sistem pembelajaran yang terstruktur.

Dengan demikian, pembentukan kualitas manusia dapat berlangsung melalui berbagai lingkungan sekaligus, bukan hanya melalui satu institusi.

Pendidikan Bermutu untuk Semua Tetap Menjadi Agenda Pemerintah

Jika pernyataan Presiden Prabowo tersebut dibaca bersamaan dengan kebijakan pemerintah di sektor pendidikan, terdapat fakta penting yang menunjukkan bahwa sekolah tetap mendapat perhatian dalam agenda pembangunan nasional.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada Juni 2026 menerbitkan siaran pers mengenai agenda Pendidikan Bermutu untuk Semua sebagai bagian dari upaya mewujudkan Asta Cita Presiden.

Judul resmi siaran pers tersebut berbunyi:

“Pendidikan Bermutu untuk Semua Jadi Motor Kemendikdasmen Wujudkan Asta Cita Presiden.”

Agenda tersebut memperlihatkan bahwa pernyataan Prabowo mengenai kecerdasan tidak dapat begitu saja dimaknai sebagai kebijakan yang mengurangi arti penting pendidikan formal.

Justru pemerintah tetap menempatkan peningkatan mutu, pemerataan akses, dan penguatan sistem pendidikan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia.

Dengan demikian, antara pesan Presiden mengenai kualitas individu dan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan tidak terdapat pertentangan.

Presiden berbicara mengenai faktor yang membentuk kualitas seseorang, sedangkan pemerintah tetap menjalankan berbagai program untuk memastikan masyarakat memperoleh pendidikan yang bermutu.

Revitalisasi dan Digitalisasi Sekolah Terus Berjalan

Komitmen pemerintah dalam memperkuat pendidikan juga terlihat dari program pemerataan fasilitas pendidikan melalui revitalisasi dan digitalisasi sekolah.

Kemendikdasmen secara khusus mempublikasikan program revitalisasi dan digitalisasi SMK di Kawasan Timur Indonesia.

Program revitalisasi tersebut juga diarahkan kepada sekolah dengan kondisi tertentu, termasuk satuan pendidikan yang mengalami kerusakan berat, berada di wilayah 3T, serta terdampak bencana.

Judul siaran pers resmi Kemendikdasmen menyebut:

“Revitalisasi Sekolah 2026 Prioritaskan yang Rusak Berat, 3T, dan Terdampak Bencana.”

Kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya berbicara mengenai pentingnya pendidikan, tetapi juga menjalankan langkah konkret untuk memperbaiki sarana pendidikan dan memperluas akses pembelajaran.

Dalam program pemerataan fasilitas pendidikan di Kawasan Timur Indonesia, Kemendikdasmen juga mencatat intervensi revitalisasi dan digitalisasi pada satuan pendidikan, termasuk 389 SMK yang memperoleh intervensi revitalisasi dan 1.972 SMK yang menerima program digitalisasi pembelajaran.

Data tersebut menjadi bagian penting dalam melihat pernyataan Presiden secara lebih utuh.

Di satu sisi, Prabowo menekankan bahwa kecerdasan dan kualitas seseorang tidak otomatis ditentukan oleh nama besar sekolah atau kampus.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kemendikdasmen tetap menjalankan program yang secara langsung memperkuat sekolah, fasilitas pendidikan, dan proses pembelajaran.

Viralitas Clipper Video Perlu Diimbangi Literasi Digital

Perdebatan yang muncul setelah potongan pernyataan Presiden beredar juga menjadi pengingat mengenai pentingnya literasi digital dalam menerima informasi.

Video berdurasi pendek memang mampu menyampaikan pesan secara cepat dan mudah menjangkau masyarakat luas.

Namun, potongan video juga berpotensi membuat sebuah pernyataan kehilangan konteks ketika bagian yang ditampilkan tidak disertai keseluruhan pembicaraan.

Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara apa yang benar-benar diucapkan, konteks pembicaraan, serta interpretasi yang muncul setelah video tersebut beredar.

Dalam kasus ini, Prabowo memang menyampaikan kalimat bahwa kecerdasan bukan dari sekolah.

Namun, berbagai sumber pemberitaan menunjukkan pernyataan tersebut disampaikan dalam pembahasan mengenai kualitas individu, perjalanan Bahlil Lahadalia, serta peran orang tua.

Karena itu, menyimpulkan bahwa pernyataan tersebut berarti “sekolah tidak penting” perlu dikaji kembali dengan melihat konteks keseluruhan pidato.

Terlebih lagi, kebijakan pemerintah menunjukkan bahwa penguatan pendidikan formal tetap berjalan melalui berbagai program peningkatan mutu, revitalisasi sekolah, pemerataan fasilitas, dan digitalisasi pembelajaran.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai kecerdasan dan sekolah menjadi perbincangan publik setelah potongan videonya beredar di media sosial.

Jika melihat keseluruhan pemberitaan mengenai acara tersebut, Prabowo sedang menyampaikan pandangan bahwa kecerdasan serta kualitas seseorang tidak otomatis ditentukan oleh nama besar sekolah atau perguruan tinggi.

Perjalanan Bahlil Lahadalia menjadi contoh yang digunakan Presiden untuk menjelaskan bahwa reputasi institusi pendidikan bukan satu-satunya ukuran kualitas manusia.

Pada saat yang sama, kebijakan pemerintah menunjukkan bahwa pendidikan formal tetap memiliki posisi penting dalam pembangunan sumber daya manusia.

Program Pendidikan Bermutu untuk Semua, revitalisasi sekolah, serta digitalisasi pembelajaran menjadi bagian dari agenda Kemendikdasmen yang terus dijalankan.

Dengan demikian, pernyataan bahwa kecerdasan tidak semata-mata ditentukan oleh sekolah tidak tepat jika langsung dimaknai sebagai penolakan terhadap pendidikan formal.

Pernyataan tersebut lebih menekankan bahwa kualitas seseorang tidak hanya ditentukan oleh nama besar institusi pendidikan, tetapi juga oleh kemampuan, kerja keras, karakter, keluarga, dan pengalaman hidup.

Sekolah, keluarga, lingkungan, serta pengalaman hidup dapat menjadi unsur yang saling melengkapi dalam proses pembentukan kualitas manusia.

Di tengah perdebatan tersebut, pemerintah juga tetap menunjukkan komitmennya terhadap pendidikan dengan memperkuat mutu pembelajaran, memperbaiki sarana sekolah, memperluas akses, serta mendorong digitalisasi pendidikan.

Dengan demikian, pesan yang dapat dilihat dari keseluruhan konteks adalah bahwa pendidikan tetap penting, tetapi kualitas manusia tidak berhenti pada nama besar sekolah atau kampus tempat seseorang pernah belajar.

 

megapolitanco
Editor