Megapolitan.co – Fenomena antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU belakangan ini memicu perdebatan publik.
Seruan Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, agar masyarakat tidak melakukan panic buying bahan bakar minyak (BBM) justru menuai kritik dari kalangan pengamat.
Direktur Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai imbauan tersebut tidak menyentuh akar persoalan.
Ia menegaskan masyarakat tidak bisa serta-merta disalahkan atas pembelian BBM secara berlebihan yang terjadi belakangan ini.
Menurut Uchok, kepanikan publik justru dipicu oleh pernyataan pejabat pemerintah sendiri yang memunculkan kekhawatiran terhadap ketersediaan energi nasional.
“Jangan menyalahi masyarakat. Mereka butuh survive agar roda ekonomi tetap jalan di tengah-tengah sulitnya kondisi ekonomi saat ini,” kata Uchok, Jumat 6 Maret 2026.
Sebelumnya, Dasco meminta masyarakat tidak bereaksi berlebihan terhadap isu pasokan BBM. Ia menyatakan pemerintah bersama DPR tengah menyiapkan berbagai skenario untuk memastikan ketersediaan BBM tetap aman, terutama menjelang arus mudik Idul Fitri.
“Tidak perlu panic buying atau membeli BBM secara berlebihan. Skenario yang ada akan segera digodok agar ketersediaan BBM bagi masyarakat tetap tercukupi, apalagi menjelang Hari Raya Idul Fitri,” ujar Dasco.
Namun Uchok menilai gelombang kepanikan yang muncul tidak bisa dilepaskan dari pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, yang sempat menyebut cadangan BBM nasional hanya cukup untuk sekitar 20 hari.
Menurutnya, pernyataan tersebut secara tidak langsung memicu kekhawatiran di tengah masyarakat mengenai ketahanan energi Indonesia.
“Panic buying yang saat ini terjadi di masyarakat adalah akibat ‘Bahlil Efek’, yaitu pernyataan Bahlil yang menyatakan stok BBM Indonesia hanya mencapai 20 hari,” tegasnya.
Kekhawatiran publik, lanjut Uchok, semakin bertambah setelah beredar kabar mengenai dua kapal minyak milik Pertamina yang disebut tidak dapat melintasi jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
“Gara-gara isu stok BBM 20 hari ini dan dua kapal minyak Pertamina tidak bisa melewati Selat Hormuz, masyarakat akhirnya ikut-ikutan antre di SPBU,” ujarnya.
Uchok juga menyinggung minimnya komunikasi publik dari Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, di tengah situasi yang sensitif tersebut.
Menurutnya, publik justru lebih sering mendengar penjelasan dari Menteri ESDM dibandingkan pimpinan perusahaan energi pelat merah itu sendiri.
“Kadang-kadang publik itu melihat, siapa sebenarnya Direktur Utama Pertamina? Apakah masih Simon Aloysius Mantiri atau sudah diganti oleh Bahlil Lahadalia,” celetuknya.
Ia menilai kondisi ini menimbulkan persepsi bahwa komunikasi terkait pasokan BBM tidak berada pada jalur yang semestinya.
“Masa urusan BBM dan Pertamina yang banyak bicara saat ini adalah Bahlil Lahadalia, bukan Simon Aloysius Mantiri. Sehingga publik menilai mahal sekali harga kata-kata yang keluar dari mulut Dirut Pertamina,” pungkasnya.






Tinggalkan Balasan