Ariyanto kemudian memaparkan sejumlah persoalan yang menurutnya menunjukkan masih bermasalahnya kondisi TPST Bantargebang.

Salah satunya adalah ancaman longsor akibat timbunan sampah yang semakin tinggi. Tumpukan sampah di lokasi tersebut disebut telah menggunung hingga setara dengan bangunan sekitar 20 lantai.

Kondisi itu, menurut Ariyanto, turut memicu tragedi longsor sampah pada Maret 2026 yang menyebabkan tujuh orang meninggal dunia dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.

Persoalan lain adalah kapasitas TPST yang dinilai telah berlebih. Volume sampah dari DKI Jakarta yang dikirim ke Bantargebang disebut mencapai lebih dari 7.000 hingga 8.000 ton setiap hari. Besarnya volume tersebut membuat kawasan TPST semakin padat dan dinilai sulit menerima tambahan beban sampah dalam jumlah besar.

Selain persoalan daya tampung, Ariyanto juga menyoroti emisi gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah.

Ia merujuk laporan bertajuk “Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills” yang dirilis UCLA School of Law pada 20 April 2026. Dalam laporan tersebut, TPST Bantargebang disebut menjadi penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia.

TPST Bantargebang disebut mengeluarkan emisi metana sekitar 6,3 ton per jam. Angka tersebut hanya terpaut 1,3 ton per jam dari TPST Campo de Mayo di Argentina.

Menurut Ariyanto, posisi tersebut juga menjadikan TPST Bantargebang sebagai lokasi dengan emisi metana terburuk di Asia, mengungguli sejumlah lokasi di Malaysia, India, dan Thailand.

Persoalan berikutnya adalah pencemaran lingkungan yang berasal dari air lindi. Cairan yang berasal dari timbunan sampah tersebut disebut mengalir ke Kali Asem dan sejumlah kali lain yang berada di sekitar permukiman warga.

Tidak hanya lingkungan di sekitar TPST, kondisi tersebut juga dinilai berdampak pada sejumlah ruas jalan di wilayah Kota Bekasi yang menjadi jalur lalu lintas truk pengangkut sampah dari DKI Jakarta.

megapolitanco
Editor