Megapolitan.co – Malam itu suasana rumah Nur Rahmadani mendadak berubah tegang. Telepon dari guru yang masuk selepas makan malam membuat ayahnya gelisah. Pertanyaannya sederhana: siapa yang menulis pesan di ompreng program Makan Bergizi Gratis (MBG)?
Sang ayah langsung diliputi kekhawatiran. Ia membayangkan kemungkinan terburuk, takut jika putrinya melakukan kesalahan di sekolah. Ibunda Nur masih mengingat jelas kecemasan itu.
“Malam Jumat, selesai makan, ada telepon dari gurunya ama dari sekolah. ‘Nur, kau yang tulis tadi di MBG.’ Dia (ayah Nur) takut. Takut itu siapa tahu kena marah,” ujarnya.
Pesan yang ditulis Nur ternyata begitu sederhana dan polos. Di ompreng MBG, ia menuliskan permintaan kecil untuk tim penyedia makanan: agar dibuatkan menu spesial sebagai kejutan ulang tahun sang ayah, karena ia tak memiliki uang untuk memberi hadiah.
Kegelisahan sang ayah tak langsung sirna. Ia menunggu kabar lanjutan dengan hati tak menentu.
“Jadi papanya batunggu itu. ‘Kenapa ini?’ Oh, berarti betul sudah, begitu ibu gurunya bilang. Betul sudah, berarti Nur Rahmadani sudah,” tutur ibunya.
Namun keesokan harinya, kecemasan itu berubah menjadi tangis haru. Permintaan sederhana Nur benar-benar direspons. Tim MBG menyiapkan kejutan ulang tahun untuk ayahnya.
“Pas besoknya, ternyata, Masya Allah, tak kalah melebihi yang kami duga,” ujarnya. “Banyak yang kasih kejutan di ulang tahun papanya.”
Bagi keluarga ini, kejutan tersebut bukan sekadar perayaan. Ada rasa dihargai dan diperhatikan yang begitu membekas. Ibunda Nur pun berharap program MBG terus berlanjut.
“Harapan untuk MBG tetap dipertahankan, itu terutama. Tidak usah didengar orang di luar sana,” katanya.
“Ini program yang baru, tapi bisa untuk semuanya. Utamanya untuk anak-anak, pasti lebih banyak yang terbantu. Sebagian besar, kalau bisa ditanya satu persatu, mungkin sangat terbantu. Sangat sekali terbantu,” sambungnya.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah atas hadirnya program tersebut. “Makasih yang terbaik untuk anak-anak bangsa.”
Lebih dari Sekadar Makanan
Bagi Nur, ompreng MBG bukan hanya tempat makan siang. Sebelum program ini hadir, ia kerap berangkat sekolah dengan sarapan seadanya. Rasa lapar membuatnya sulit berkonsentrasi saat pelajaran berlangsung.
“Tapi sekarang, sejak ada makan bergizi gratis di sekolah kami, semuanya berubah,” katanya.
Kini, ia dan teman-temannya mendapat makanan bergizi setiap hari. Energinya lebih terjaga, semangat belajar meningkat, dan ia bisa mengikuti pelajaran dengan lebih fokus.
“Bagi kami di Sigi, apalagi di daerah pelosok seperti tempat tinggal saya, ini tentang perhatian, tentang kepedulian yang benar-benar sampai kepada kami,” ujarnya.
Nur pun menyampaikan pesan khusus kepada Prabowo Subianto.
“Untuk Pak Presiden, terima kasih. Terima kasih yang besar kami ucapkan. Dan untuk Bapak, kami semuanya mendoakan Bapak selalu sehat dan bisa memikirkan anak-anak bangsa lainnya,” ucapnya.
Ia sadar dirinya hanya seorang anak dari daerah yang jauh dari pusat kota. Namun mimpi-mimpinya besar.
“Dengan adanya makan bergizi gratis, saya merasa lebih kuat untuk belajar dan lebih berani untuk bercita-cita. Saya ingin suatu hari nanti bisa menjadi orang yang membanggakan orangtua saya, berguna bagi daerah saya dan juga bagi Indonesia,” tutupnya.






Tinggalkan Balasan