“Ternyata memang masih ada. Hanya sekarang pakainya baju wartawan, baju pengamat, baju LSM. Yang tersinggung, tenang saja. Presiden cuma nyebutin fakta. Kalau merasa tertuju, ya mungkin memang tertuju,” tambah dia.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi Dede Budhyarto yang disampaikan melalui akun media sosialnya. Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat tanggapan resmi dari organisasi profesi jurnalis terkait kutipan tersebut.

Pernyataan Prabowo Soroti Loyalitas dan Sumber Pendanaan

Dalam pidatonya pada acara peringatan Hari Lahir ke-28 PKB, Prabowo memang menyampaikan pernyataan mengenai pihak-pihak yang dinilainya lebih mengutamakan kepentingan bangsa lain.

“Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Iya, yang ikut Belanda perang lawan kita, Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan,” kata Prabowo.

Setelah menyampaikan pernyataan tersebut, Presiden juga menyinggung transparansi mengenai pihak yang membiayai berbagai lembaga dan profesi yang berada di ruang publik.

“Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah, kita tahu kan?” imbuhnya.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi perhatian kelompok pers maupun masyarakat sipil. Perdebatan tidak hanya berkisar pada istilah londo ireng, tetapi juga menyentuh hubungan antara pemerintah, media, lembaga swadaya masyarakat, pengamat, dan kritik terhadap kekuasaan.

Dalam demokrasi, kritik terhadap kebijakan pemerintah tetap menjadi bagian dari mekanisme kontrol publik. Dakhori menilai sikap kritis tidak seharusnya otomatis dipandang sebagai bentuk permusuhan terhadap negara.

“Mencintai negara bukan berarti membenarkan semua kebijakan. Justru cinta terhadap negara ditunjukkan dengan keberanian mengingatkan ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kepentingan rakyat,” jelasnya.
Potongan Video dan Pentingnya Membaca Konteks

Perdebatan mengenai londo ireng juga menjadi pengingat mengenai pentingnya memahami pernyataan pejabat publik secara utuh.