Megapolitan.co – Nilai ekonomi hasil tangkapan nelayan tidak hanya ditentukan oleh jumlah ikan yang diperoleh, tetapi juga kemampuan menjaga kualitasnya hingga sampai ke konsumen.

Ketersediaan es, cold storage, sarana produksi, dan akses pasar menjadi bagian penting dalam rantai kegiatan perikanan yang dikembangkan melalui Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Kota Sorong.

Bagi nelayan, persoalan operasional tidak berhenti pada keberadaan ikan di laut. Kesiapan perahu, bahan bakar, kondisi cuaca, hingga penanganan ikan setelah ditangkap ikut menentukan keberlanjutan kegiatan perikanan.

Ketersediaan es, misalnya, dibutuhkan untuk membantu mempertahankan mutu hasil tangkapan sebelum dipasarkan. Ikan yang telah diperoleh nelayan perlu segera ditangani agar kualitasnya tetap terjaga hingga sampai ke konsumen.

Dengan demikian, fasilitas rantai dingin seperti pabrik es dan cold storage memiliki kaitan dengan upaya mempertahankan nilai ekonomi hasil perikanan.

Kebutuhan nelayan juga mencakup sarana produksi. Perahu dan mesin tempel menjadi bagian dari perlengkapan yang menentukan kemampuan nelayan menjalankan kegiatan penangkapan ikan.

Karena itu, penguatan KNMP tidak cukup hanya dilihat dari pembangunan infrastruktur kawasan, tetapi juga dari sejauh mana fasilitas yang tersedia dapat menjawab kebutuhan produksi masyarakat pesisir.

Di Kota Sorong, pembangunan KNMP berlangsung di sembilan kelurahan, yakni Rufei, Doom Barat, Tanjung Kasuari, Remu Selatan, Doom Timur, Raam, Soop, Malawei, dan Saoka. Pemerintah Kota Sorong menyebut sebagian besar lokasi tersebut telah memasuki tahap pelaksanaan pekerjaan.

Salah satu contoh fasilitas KNMP yang telah dipaparkan Pemkot Sorong berada di Kelurahan Rufei.

Kawasan tersebut disiapkan dengan sejumlah fasilitas pendukung kegiatan perikanan, antara lain dermaga, cold storage, pabrik es, SPBUN, fasilitas UMKM, dan bengkel. Pembangunan KNMP Rufei sendiri dimulai melalui peletakan batu pertama pada April 2026.

Pembangunan fasilitas tersebut menunjukkan bahwa konsep KNMP diarahkan untuk mencakup berbagai tahapan kegiatan nelayan, mulai dari persiapan melaut hingga penanganan hasil tangkapan.

Namun, keberadaan fasilitas secara fisik belum otomatis menjamin seluruh kebutuhan nelayan terpenuhi. Operasional, pengelolaan, pemeliharaan, akses masyarakat, serta mekanisme pemanfaatannya tetap menjadi faktor penting.

Hal itu juga menjadi perhatian dalam pengembangan KNMP di Sorong. Fasilitas seperti pabrik es dan cold storage membutuhkan pasokan listrik, pengelola, perawatan, serta sistem distribusi hasil tangkapan.

Demikian pula SPBUN memerlukan mekanisme penyaluran yang tepat sasaran dan mudah dijangkau nelayan.

Karena itu, penguatan KNMP Tanjung Kasuari dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yakni membangun ekosistem perikanan yang menghubungkan kebutuhan melaut, ketersediaan BBM, penanganan hasil tangkapan, sarana produksi, hingga akses pasar.

Bagi nelayan, manfaat pembangunan pada akhirnya akan terasa ketika fasilitas yang tersedia benar-benar dapat digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Kemudahan memperoleh BBM, ketersediaan es, dukungan terhadap sarana produksi, serta pengelolaan fasilitas yang sesuai kebutuhan menjadi bagian penting agar KNMP tidak berhenti pada pembangunan kawasan, tetapi dapat berfungsi sebagai infrastruktur pendukung kegiatan ekonomi masyarakat pesisir.

Dengan pengembangan KNMP di sembilan kelurahan, termasuk Tanjung Kasuari, pemerintah daerah dan pemerintah pusat memiliki ruang untuk terus memastikan pembangunan fasilitas berjalan beriringan dengan kebutuhan nelayan.

Pemanfaatan yang efektif, akses yang mudah, serta pengelolaan yang berkelanjutan akan menjadi faktor penting dalam menentukan manfaat KNMP bagi masyarakat pesisir Kota Sorong.

 

megapolitanco
Editor