Megapolitan.co – Riwayat transaksi kartu kredit BCA milik seorang pengguna media sosial mendadak mencatat pengeluaran dengan nilai total sekitar Rp28,25 juta. Pemilik kartu menyatakan transaksi tersebut bukan dilakukan olehnya.

Catatan transaksi itu diketahui setelah pemilik akun memeriksa aplikasi kartu kredit. Dalam tangkapan layar yang dibagikan, sejumlah transaksi tercatat, pada 19 September 2026 dengan nominal yang cukup besar.

Salah satu transaksi tercatat senilai Rp9.096.936. Sementara transaksi lainnya mencapai Rp10.056.258. Masih terdapat satu transaksi lain dengan nilai Rp9.096.936 yang turut terlihat pada tangkapan layar.

Ketiga transaksi tersebut jika dijumlahkan mencapai sekitar Rp28,25 juta. Pada detailnya, transaksi tercantum dengan keterangan “DANA QR * Lazad*20260919OJAKARTA SLT ID” serta informasi BCA BLIBLI TIKET.

Pengalaman tersebut kemudian dibagikan melalui akun X (Twitter) @marthaningrum dan terlihat pada Rabu, 23 September 2026. Pemilik akun mengaku selama ini merasa telah menjaga keamanan data kartu kredit BCA miliknya.

“Selama ini merasa secure dgn data kartu kredit BCA, tapi tiba-tiba DUAAAR kena bobol jg hampir 30jt,” tulis pemilik akun.

Berdasarkan tangkapan layar tersebut, terdapat sedikitnya dua transaksi dengan nominal jutaan rupiah. Salah satunya tercatat sebesar Rp9.096.936, sementara transaksi lainnya mencapai Rp10.056.258.

Kedua transaksi itu tercantum dengan keterangan “DANA QR * Lazad*20260919OJAKARTA SLT ID”. Pada bagian keterangan transaksi juga terdapat nama BCA BLIBLI TIKET.

Jika nominal Rp9.096.936 dan Rp10.056.258 digabungkan, nilainya sekitar Rp19,15 juta. Namun, tangkapan layar yang dibagikan pemilik akun juga memperlihatkan transaksi lain dengan nominal Rp9.096.936.

Dengan demikian, total nilai transaksi yang terlihat pada gambar mencapai sekitar Rp28,25 juta. Nominal tersebut yang kemudian disebut pemilik akun sebagai transaksi hampir Rp30 juta yang tidak dilakukannya.

Pemilik akun juga menyampaikan bahwa selama ini dirinya merasa telah menjaga keamanan informasi kartu kredit. Meski demikian, unggahan tersebut belum memuat penjelasan mengenai bagaimana transaksi tersebut bisa muncul.

Belum diketahui pula dari unggahan tersebut apakah kartu kredit masih berada dalam penguasaan pemilik, apakah sebelumnya terdapat aktivitas mencurigakan pada akun, atau ada perangkat tertentu yang digunakan berkaitan dengan transaksi tersebut.

Di sisi lain, BCA telah mengingatkan nasabah mengenai berbagai modus penyalahgunaan yang mengatasnamakan bank. Dalam informasi resmi yang diperbarui pada September 2026, BCA menyebut metode penipuan perbankan berkembang dengan berbagai cara, mulai dari telepon hingga pesan yang dibuat seolah berasal dari BCA.

Salah satu modus yang dijelaskan BCA adalah pelaku menghubungi calon korban dan menyampaikan adanya transaksi mencurigakan. Pelaku kemudian dapat meminta data rahasia perbankan dengan dalih membantu membatalkan transaksi tersebut.

BCA menegaskan nasabah tidak boleh memberikan informasi rahasia seperti nomor kartu, masa berlaku kartu, CVV/CVC, PIN, password, maupun kode OTP kepada pihak lain. BCA juga menyatakan tidak pernah meminta data perbankan rahasia melalui telepon, SMS, email, media sosial, maupun sarana komunikasi lainnya.

Apabila menemukan aktivitas yang mencurigakan, nasabah dapat menghubungi kanal resmi BCA, antara lain Pusat Bantuan di myBCA, aplikasi haloBCA, maupun nomor 1500888. BCA juga mencantumkan WhatsApp Bank BCA 08111500998 sebagai salah satu kanal resmi yang terverifikasi.

BCA juga menyediakan pengaturan kontrol kartu kredit melalui sejumlah kanal layanan. Fitur tersebut dapat digunakan nasabah untuk mengatur jenis transaksi yang diperbolehkan, termasuk transaksi melalui e-commerce.

Meski pemilik akun menggunakan istilah “kena bobol”, kesimpulan bahwa kartu kredit tersebut telah dibobol belum dapat dipastikan hanya berdasarkan tangkapan layar yang diunggah.

Adanya transaksi bernilai besar dalam aplikasi memang menunjukkan terdapat pencatatan transaksi, tetapi kondisi tersebut belum secara otomatis menjelaskan bagaimana transaksi dilakukan ataupun pihak yang melakukan transaksi.

Tangkapan layar juga belum dapat menjadi bukti mengenai sumber akses, metode otorisasi, perangkat yang digunakan, maupun kemungkinan adanya data kartu yang sebelumnya telah digunakan dalam transaksi.

Karena itu, penyebab transaksi tersebut masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Penelusuran dapat dilakukan oleh BCA bersama pihak-pihak yang tercantum dalam informasi transaksi, termasuk DANA dan Lazada.

Pemeriksaan tersebut dapat mencakup riwayat transaksi, proses otorisasi, akun yang terhubung, perangkat yang digunakan, serta mekanisme autentikasi ketika transaksi berlangsung. Hasil pemeriksaan dari masing-masing pihak diperlukan untuk memastikan bagaimana transaksi tersebut dapat terjadi.

Dari sisi Lazada, ketentuan perlindungan pembayaran mereka mengenal istilah “Transaksi Tidak Sah”. Salah satunya mencakup transaksi atau top up ke Lazada Wallet menggunakan kartu kredit atau debit yang tersimpan pada akun Lazada tanpa kewenangan pemilik dan tidak memberikan keuntungan kepada pemilik.

Lazada juga menyatakan pengguna harus segera memberitahukan apabila menduga terjadi transaksi atau akses akun yang tidak sah. Pengguna diminta memberikan informasi maupun dokumen yang diperlukan agar proses pemeriksaan dapat dilakukan.

Sementara itu, DANA juga menyediakan mekanisme pengaduan bagi pengguna yang merasa menjadi korban penipuan, dengan mencantumkan kronologi kejadian secara singkat dan jelas. Bukti pendukung seperti tangkapan layar transaksi, mutasi rekening, percakapan, maupun log panggilan dapat dilampirkan untuk membantu proses verifikasi.

Dengan demikian, unggahan pemilik akun X tersebut lebih tepat diposisikan sebagai laporan atau pengakuan mengenai adanya transaksi yang tidak dikenali. Unggahan tersebut belum dapat dijadikan bukti final bahwa sistem BCA, DANA, atau Lazada telah mengalami pembobolan.

Penentuan penyebab transaksi membutuhkan penelusuran pada rangkaian proses pembayaran yang terlibat. Apalagi, informasi yang terlihat dalam tangkapan layar menunjukkan adanya keterkaitan antara kartu kredit, DANA, QR, dan platform e-commerce.

Kasus tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persoalan transaksi digital dapat melibatkan lebih dari satu penyedia layanan. Pemeriksaan tidak hanya berkaitan dengan bank penerbit kartu, tetapi juga dapat mencakup akun, sistem pembayaran, platform perdagangan elektronik, hingga proses autentikasi yang digunakan.

BCA sendiri terus mengingatkan nasabah agar tidak panik ketika menerima informasi mengenai transaksi mencurigakan, terutama jika informasi tersebut disampaikan oleh pihak yang mengaku sebagai petugas bank. Nasabah diminta memastikan informasi melalui kanal resmi dan tidak memberikan data rahasia.

Hingga informasi ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari BCA, DANA, maupun Lazada yang menjelaskan penyebab spesifik munculnya transaksi pada akun tersebut. Karena itu, status transaksi dan mekanisme terjadinya masih menunggu hasil penelusuran dari pihak-pihak terkait.

 

 

megapolitanco
Editor