“Londo Ireng bukan soal siapa orangnya, tetapi bagaimana watak kekuasaan itu dijalankan. Ketika seseorang berasal dari rakyat, tetapi kemudian menggunakan kekuasaan untuk menekan rakyat, di situlah kritik itu muncul,” kata Dakhori, Minggu, 26 Juli 2026.

Ia menyebut bentuk ancaman terhadap masyarakat pada masa sekarang tidak selalu hadir dalam bentuk penjajahan fisik seperti yang terjadi pada abad ke-19.

Menurutnya, persoalan dapat muncul melalui sistem yang justru membuat ketimpangan semakin besar dan mengurangi ruang masyarakat kecil.

“Dulu penjajah datang dengan kekuatan fisik. Sekarang bisa hadir melalui sistem yang membuat sebagian kelompok semakin kuat, sementara masyarakat kecil semakin sulit mendapatkan ruang,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai pertanyaan mengenai siapa yang mendapatkan manfaat dari pembangunan menjadi hal penting untuk diperhatikan.

“Pertanyaan pentingnya adalah pembangunan itu untuk siapa? Apakah manfaatnya benar-benar dirasakan rakyat luas atau hanya dinikmati kelompok tertentu?” kata dia.

Dakhori juga mengingatkan agar pemegang jabatan publik tidak terjebak pada mentalitas kolonial ketika menjalankan kekuasaan.

“Penjajahan tidak selalu datang dari luar. Yang harus diwaspadai adalah ketika mental penjajah tumbuh dari dalam,” tutup Dakhori.
Media Sosial Kaitkan Istilah dengan Silsilah Prabowo

Polemik semakin berkembang setelah potongan video pidato Prabowo beredar luas di berbagai platform media sosial. Sejumlah akun kemudian membawa pembahasan ke ranah silsilah keluarga Presiden.

Istilah londo ireng dikaitkan dengan garis keturunan dari pihak ibu Prabowo, Dora Marie Sigar, yang dalam sejumlah narasi media sosial dikaitkan dengan sosok Benjamin Thomas Sigar.