Pengaitan tersebut melahirkan berbagai klaim dan opini. Salah satunya mempertanyakan konsistensi pernyataan Presiden dengan latar belakang keluarganya.
Narasi tersebut kemudian berkembang lebih jauh hingga muncul anggapan bahwa pernyataan Presiden berkaitan dengan sikap pemerintah terhadap kritik.
Dalam perspektif komunikasi politik, membawa latar belakang pribadi atau leluhur seseorang untuk menyerang argumen yang disampaikannya dapat mengarah pada pola argumentasi ad hominem.
Pola tersebut membuat perdebatan bergeser dari substansi yang disampaikan menjadi pembahasan mengenai karakter, identitas, atau asal-usul seseorang.
Dede Budhyarto Bela Pernyataan Presiden
Mantan Komisaris PT Pelni, Dede Budhyarto, turut memberikan pandangannya mengenai polemik penggunaan istilah londo ireng oleh Presiden Prabowo. Pandangan tersebut disampaikan Dede secara pribadi melalui akun media sosial X miliknya.
Dede menilai reaksi keras terhadap pernyataan Presiden justru menunjukkan bahwa pesan yang disampaikan Prabowo memiliki relevansi dengan kondisi yang sedang dibicarakan.
“Ucapan Presiden soal ‘londo ireng’ bikin banyak orang langsung merah muka, marah-marah, tuntut minta maaf. Nah, itulah buktinya. Yang kebakaran jenggot itu justru londo-londo ireng-nya,” tulis Dede.
Ia kemudian menganggap pihak yang bereaksi keras sebagai kelompok yang merasa tersentuh oleh pesan Presiden mengenai loyalitas terhadap kepentingan bangsa.
“Mereka yang pura-pura netral, pura-pura jaga bangsa, sekarang teriak paling kencang. Kenapa? Karena kena batunya. Ibarat mau berantas tikus? Bakar saja lumbungnya. Langsung keluar semua, menggerutu, mengadu, minta dilindungi,” ujarnya.
Dede juga menyampaikan pandangannya mengenai keberadaan mentalitas yang ia maksud pada masa sekarang.






Tinggalkan Balasan