Megapolitan.co – Pengamat ekonomi Dr. Noviardi Ferzi menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 yang diproyeksikan mencapai 5,06 persen menunjukkan ketahanan domestik yang masih terjaga di tengah tekanan global.

Konsumsi rumah tangga dinilai menjadi faktor utama penopang ekonomi nasional dengan kontribusi lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurut Noviardi, capaian tersebut patut diapresiasi mengingat kondisi eksternal yang belum sepenuhnya kondusif, mulai dari perlambatan ekonomi dunia hingga ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter global.

“Pertumbuhan di atas 5% pada 2025 menunjukkan fondasi ekonomi domestik masih cukup kokoh. Konsumsi rumah tangga berfungsi sebagai shock absorber ketika ekspor dan investasi menghadapi tekanan global,” ujarnya, Kamis (5/2/2026).

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dominasi konsumsi sebagai motor pertumbuhan tidak bisa terus diandalkan tanpa penguatan sektor produktif. Ketergantungan berlebihan dinilai berpotensi menahan laju pertumbuhan dalam jangka menengah.

Noviardi menyebut, target pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 5,0–5,4 persen hanya dapat dicapai secara optimal apabila pemerintah mampu mendorong investasi yang berkualitas, mempercepat agenda hilirisasi industri, serta memperkuat peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Kalau hanya mengandalkan konsumsi, pertumbuhan akan cenderung stagnan. Untuk menembus 5,4 persen, kita membutuhkan akselerasi investasi riil, percepatan proyek hilirisasi, serta reformasi birokrasi yang benar-benar dirasakan pelaku usaha,” tegasnya.

Ia menilai akselerasi sektor riil harus dijalankan melalui kebijakan yang terintegrasi antara fiskal, investasi, dan kemitraan lintas sektor.

Optimalisasi belanja negara dinilai perlu diarahkan ke sektor-sektor strategis seperti ekonomi digital, ekonomi hijau, serta infrastruktur padat karya yang memiliki dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja.

Selain itu, Noviardi menyoroti pentingnya efektivitas kredit program pemerintah, terutama Kredit Usaha Rakyat (KUR), agar tidak sekadar menjadi pembiayaan konsumtif, melainkan mendorong transformasi usaha kecil menjadi lebih produktif dan berdaya saing.

“Sinkronisasi kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci. Stabilitas suku bunga dan nilai tukar akan memberi kepastian bagi dunia usaha untuk melakukan ekspansi,” ujarnya.

Dalam konteks hilirisasi, ia menilai peningkatan nilai tambah nasional harus dipercepat, baik pada sektor mineral seperti nikel maupun pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Ia juga mendorong harmonisasi kebijakan harga gas industri, perlindungan pasar domestik, serta relaksasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara selektif.

Revitalisasi sektor manufaktur melalui program Making Indonesia 4.0, menurutnya, menjadi langkah penting untuk menciptakan efek pengganda terhadap penyerapan tenaga kerja, peningkatan ekspor, dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Sementara dalam penguatan UMKM, Noviardi merekomendasikan pengembangan kemitraan rantai pasok antara usaha besar dan UMKM, peningkatan kapasitas melalui pelatihan berkelanjutan, serta perluasan akses pasar hingga ke level global.

Ia juga menekankan agar pembiayaan dari perbankan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) benar-benar mengalir ke sektor riil.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kualitas pertumbuhan ekonomi harus menjadi perhatian utama pemerintah, bukan semata capaian angka.

“Kalau investasi berkualitas, hilirisasi, dan UMKM bergerak serentak, maka pertumbuhan tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga berkualitas menciptakan lapangan kerja, memperkuat daya beli, dan mengurangi ketimpangan,” katanya.

Noviardi menambahkan bahwa tahun 2026 harus menjadi momentum transformasi ekonomi nasional, bukan sekadar menjaga stabilitas makro.

“Indonesia tidak boleh puas di angka 5 persen. Kita perlu pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Di situlah sektor riil harus ditempatkan sebagai lokomotif utama pembangunan ekonomi,” pungkasnya.

megapolitanco
Editor