Megapolitan.co – Dua mushaf Al-Qur’an berukuran raksasa yang ditulis tangan lebih dari tiga dekade lalu masih tersimpan rapi di lingkungan Pondok Pesantren Al-Hikmah, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten.
Kitab suci tersebut merupakan karya ulama almarhum Kiai Haji Ahmad Basarudin Ali bersama para santrinya, yang diselesaikan dalam waktu sekitar satu tahun pada 1990 hingga 1991.
Mushaf pertama memiliki ukuran panjang sekitar 1,6 meter dan lebar 1,2 meter. Kitab ini disimpan di ruang khusus di dekat asrama putri pesantren.
Sementara mushaf kedua berukuran panjang satu meter dan lebar 0,8 meter, ditempatkan di area majelis pondok.
Proses penulisan mushaf raksasa tersebut dilakukan secara manual menggunakan tangan, di atas kertas tradisional bernama daluang dengan tinta khusus agar tahan lama dan tidak mudah rusak oleh serangga.
Penulisan dilakukan pada waktu-waktu khusus, yakni setelah salat tahajud atau pada sepertiga malam, hingga akhirnya rampung dalam kurun satu tahun penuh.
Menantu penulis mushaf, Mukarromi Ma’sum, menyebut karya tersebut memiliki nilai sejarah sekaligus spiritual yang tinggi bagi pesantren.
“Al-Qur’an raksasa ini merupakan karya terakhir ayah. Sebelumnya beliau juga menulis dua mushaf lain, salah satunya dihibahkan kepada seorang ulama di Tasikmalaya,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Saat ini kedua mushaf disimpan dengan perawatan khusus. Pihak pesantren jarang mengeluarkannya karena ukuran dan beratnya yang besar.
Untuk memindahkan satu mushaf saja, dibutuhkan setidaknya delapan orang agar kitab dapat diangkat dari tempat penyimpanan dengan aman.
Keberadaan mushaf raksasa ini menjadi salah satu peninggalan penting di lingkungan pesantren sekaligus bukti tradisi penulisan Al-Qur’an secara manual yang masih terjaga di Indonesia.






Tinggalkan Balasan