Rasyid menilai apa yang terjadi di tubuh PA GMNI Kota Bekasi mencerminkan kemunduran moral gerakan.

“PA GMNI seharusnya menjadi ruang pembinaan dan pengabdian sosial. Tapi kini, sebagian oknum alumni menjadikannya alat tawar-menawar politik,” katanya.

Menurutnya, insiden ricuh di Merapi Merbabu adalah puncak dari akumulasi konflik kepentingan yang sudah lama mengendap di internal alumni.

“Ketika organisasi diseret ke pusaran kepentingan politik praktis, maka semangat persatuan kader Marhaenis akan hancur. Yang tersisa hanya simbol kosong tanpa makna perjuangan,” tambah Rasyid.

Sementara itu, beberapa saksi menyebut kehadiran Aweng baru terlihat setelah kericuhan mereda. Hal ini memunculkan dugaan bahwa ia sedang menyiapkan langkah lanjutan untuk membangun citra baru di hadapan Tri, seolah tampil sebagai “penyelamat” di tengah kekacauan internal.

Kisruh ini memperlihatkan wajah lain dunia aktivis di tingkat lokal, bagaimana idealisme yang dulu menjadi roh gerakan, kini perlahan terkikis oleh ambisi kekuasaan dan kepentingan politik sempit.

megapolitanco
Editor