Megapolitan.co – Pengembangan ekonomi masyarakat pesisir di Kampung Waryesi, Distrik Supiori Timur, Kabupaten Supiori, Papua, diarahkan tidak hanya melalui aktivitas penangkapan ikan.

Potensi perikanan setempat juga memiliki ruang untuk dikembangkan melalui pengolahan, penyimpanan, distribusi dan pemasaran hasil laut.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena nelayan Waryesi masih menghadapi keterbatasan sarana produksi dan akses terhadap pasar.

Perwakilan nelayan, Matias Mansoeben, sebelumnya menyampaikan sejumlah kebutuhan yang masih menjadi persoalan dalam kegiatan sehari-hari.

“Kondisi nelayan di lapangan memang kami sangat kekurangan dengan hal-hal lain berkaitan dengan perahu, tempat pendaratan, dan juga alat-alat tangkap,” kata Matias, dikutip Sabtu (19/9/2026).

Selain sarana produksi, persoalan juga muncul setelah hasil tangkapan didaratkan. Nelayan membutuhkan dukungan untuk menjaga kualitas ikan, menyimpan hasil tangkapan, mengolah hingga mendistribusikannya kepada konsumen.

Keterbatasan tempat penjualan ikan di Waryesi membuat sebagian hasil tangkapan belum selalu terserap pasar. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan masyarakat.

Untuk menjawab kebutuhan para nelayan Kampung Waryesi, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan Kampung Waryesi, Distrik Supiori Timur, menjadi kawasan pengembangan ekonomi masyarakat pesisir, yakni dengan membangun Kampung Nelayan Merah Putih.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menjelaskan pembangunan kawasan nelayan dirancang sebagai ekosistem perikanan terintegrasi yang menghubungkan kawasan hulu dengan nelayan, rantai dingin, industri pengolahan dan pasar. Pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat hilirisasi perikanan.

“Kalau Kampung Nelayan Merah Putih ini berjalan, saya jamin kualitas produknya bagus karena rantai penanganannya dibenahi dari awal. Industri pengolahan juga akan lebih mudah menyerap hasil tangkapan nelayan,” ujar Trenggono.