Megapolitan.co – Pemerintah Kota Bekasi dan DPRD Kota Bekasi diminta tidak terus bersikap pasif terhadap persoalan pengelolaan sampah di TPST Bantargebang.

Meski sampah yang dibuang berasal dari DKI Jakarta, dampak lingkungan dan sosial dari aktivitas tersebut dirasakan langsung masyarakat di wilayah Kota Bekasi.

Pembina Komunitas Gerakan Cinta Bekasi, Ariyanto Hendrata, menilai sudah saatnya Pemerintah Kota Bekasi dan DPRD mengambil peran lebih besar dalam menentukan arah pengelolaan TPST Bantargebang.

Menurutnya, Bekasi tidak seharusnya hanya menjadi pihak yang menerima dampak dari kebijakan pengelolaan sampah DKI Jakarta.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena pengelolaan TPST Bantargebang oleh DKI Jakarta secara swakelola telah berlangsung sejak Agustus 2016.

Perubahan pengelolaan dari pihak swasta menjadi pemerintah dilakukan melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) Nomor 16 Tahun 2016 dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemprov DKI Jakarta.

Namun, perubahan pola pengelolaan itu dinilai belum menghasilkan kondisi yang lebih baik. Bahkan, sejumlah persoalan lingkungan dan keselamatan masih terjadi, mulai dari kapasitas sampah yang berlebih, pencemaran air dan udara, air lindi, kebakaran hingga longsor.

“Namun dalam prakteknya tidak lebih baik atau bahkan lebih buruk dari pada pengelolaan-pengelolaan sebelumnya. Teknologi modern yang ramah lingkungan tak kunjung diterapkan secara serius oleh DKI,” ujar Ariyanto dalam keterangannya, dikutip Rabu (16/9/2026).

“Yang ada mereka melakukan open dumping/pembuangan secara terbuka hingga saat ini. Kapasitas TPA yang sudah overload, Pencemaran lingkungan semakin akut, air lindi berceceran dimana mana, bahkan sampai mengalir ke kali/sungai warga, pencemaran udara, bahkan longsor dan kebakaran pun slalu terjadi,” kata Ariyanto.

Ia menilai persoalan di TPST Bantargebang tidak hanya berkaitan dengan kapasitas tampung sampah, tetapi juga menyangkut keselamatan, pencemaran lingkungan, kesehatan, hingga kenyamanan masyarakat Kota Bekasi yang tinggal di sekitar lokasi.

megapolitanco
Editor