Megapolitan.co – Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati Rp18.000 per dolar Amerika Serikat dan terkoreksinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga berada di kisaran 5.707, memicu perbincangan luas di media sosial, Jumat (5/6/2026).

Kondisi tersebut bahkan memunculkan berbagai spekulasi yang mengaitkannya dengan dinamika politik dan pemerintahan saat ini.

Di tengah berkembangnya berbagai narasi tersebut, mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menyamakan situasi sekarang dengan krisis ekonomi 1998.

Menurut Fuad, krisis yang terjadi hampir tiga dekade lalu memiliki karakter yang sangat berbeda dengan situasi yang sedang dihadapi Indonesia saat ini. Ia menilai gejolak ekonomi pada 1998 bukan hanya dipicu faktor ekonomi semata, tetapi juga dipengaruhi ketidakstabilan politik yang berkembang saat itu.

Karena itu, pelemahan rupiah maupun penurunan IHSG saat ini tidak bisa serta-merta dijadikan indikator bahwa Indonesia sedang bergerak menuju fase krisis seperti masa lalu.

Fuad menilai fondasi ekonomi Indonesia saat ini memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan periode 1998. Sistem perbankan dinilai lebih kuat, pengawasan sektor keuangan semakin ketat, dan pemerintah juga memiliki instrumen kebijakan yang lebih lengkap untuk mengantisipasi gejolak.

Pandangan tersebut sekaligus memperkuat keyakinan bahwa tekanan pasar yang terjadi saat ini masih dapat dikendalikan melalui langkah-langkah kebijakan ekonomi yang tepat.

Pergerakan Pasar Dinilai Dipengaruhi Faktor Jangka Pendek

Di sisi lain, pemerintah juga meminta masyarakat melihat pergerakan kurs dan pasar modal secara lebih proporsional. Dinamika pasar keuangan disebut dipengaruhi banyak faktor, mulai dari sentimen investor, ekspektasi pasar global, hingga situasi geopolitik internasional.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa pelemahan rupiah dan koreksi pasar saham mencerminkan kondisi ekonomi nasional secara keseluruhan.

“Jangan takut. Daya beli masyarakat masih kuat,” ujar Purbaya dalam keterangannya yang dikutip sejumlah media ekonomi nasional.

Menurut Purbaya, sejumlah indikator ekonomi riil masih menunjukkan kondisi yang relatif terjaga. Aktivitas konsumsi rumah tangga masih berjalan normal, dunia usaha tetap bergerak, dan sistem perbankan nasional juga berada dalam kondisi yang stabil.

Ia menjelaskan bahwa penurunan IHSG dalam beberapa waktu terakhir lebih dipengaruhi faktor psikologis pasar serta meningkatnya kehati-hatian investor terhadap perkembangan situasi global.

Karena itu, koreksi indeks hingga berada di level 5.707-an dinilai belum menunjukkan perubahan mendasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

Purbaya menambahkan bahwa pasar keuangan sering bergerak berdasarkan persepsi serta ekspektasi pelaku pasar yang dapat berubah dengan cepat. Dalam banyak situasi, pergerakan pasar saham juga tidak selalu menggambarkan kondisi ekonomi riil yang sedang berjalan.

Pandangan itu sejalan dengan sejumlah ekonom yang menilai volatilitas pasar merupakan bagian yang lazim dalam siklus investasi, terutama ketika ketidakpastian global sedang meningkat.

Fundamental Ekonomi Masih Menunjukkan Ketahanan

Pemerintah menilai indikator utama ekonomi Indonesia masih berada pada jalur yang cukup baik. Konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional masih menunjukkan tren positif.

Selain itu, sektor perbankan juga dinilai memiliki tingkat permodalan yang kuat serta likuiditas yang memadai untuk menopang aktivitas ekonomi.

Di sisi lain, berbagai sektor usaha masih menjalankan aktivitas produksi maupun investasi pada sektor-sektor strategis.

Atas dasar itu, pemerintah menilai anggapan yang menyebut Indonesia sedang menuju krisis ekonomi perlu dicermati secara hati-hati dan mengacu pada data yang valid.

Purbaya bahkan menegaskan bahwa kondisi saat ini belum menunjukkan adanya indikasi gangguan serius terhadap ekonomi domestik seperti yang pernah terjadi pada berbagai krisis besar sebelumnya.

Pemerintah dan BI Perkuat Langkah Stabilitas

Menghadapi gejolak pasar yang terjadi, pemerintah bersama Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Sejumlah kebijakan telah dipersiapkan, mulai dari penguatan pengelolaan devisa hasil ekspor, stabilisasi pasar keuangan, hingga langkah menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

DPR juga mendorong pemerintah dan Bank Indonesia untuk mengambil langkah antisipatif agar tekanan pasar tidak berkembang menjadi gejolak yang lebih besar.

Pemerintah menegaskan bahwa upaya menjaga stabilitas ekonomi merupakan kebijakan berkelanjutan, bukan hanya dilakukan saat terjadi tekanan pasar.

Dengan dukungan instrumen fiskal, moneter, dan sektor keuangan yang tersedia, pemerintah tetap optimistis pertumbuhan ekonomi nasional dapat dijaga di tengah tantangan global yang terus berkembang.

megapolitanco
Editor