Megapolitan.co – Tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia belakangan ini memicu berbagai spekulasi di ruang publik.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bahkan dikaitkan dengan pidato Presiden Prabowo Subianto.
Namun, sejumlah ekonom menilai kesimpulan tersebut terlalu sederhana dan tidak mencerminkan cara kerja pasar keuangan modern. Menurut mereka, fluktuasi pasar merupakan hasil interaksi berbagai faktor global maupun domestik yang berlangsung secara bersamaan.
IHSG sempat mengalami penurunan lebih dari 3 persen, sementara rupiah melemah hingga menyentuh kisaran Rp18.024 per dolar AS. Meski demikian, kondisi tersebut dinilai tidak dapat dijadikan indikator tunggal untuk mengukur kekuatan ekonomi nasional.
Dalam teori ekonomi keuangan modern, hubungan waktu (timing) antara suatu peristiwa politik dan pergerakan pasar tidak otomatis membuktikan adanya hubungan sebab-akibat (causality).
Pergerakan pasar lebih banyak dipengaruhi oleh ekspektasi investor, kondisi likuiditas global, kebijakan bank sentral dunia, hingga perkembangan geopolitik internasional.
Fundamental Ekonomi Dinilai Tetap Kuat
Ekonom InFast, Bestari Gede, menegaskan bahwa kondisi ekonomi riil Indonesia masih berada pada jalur yang positif meski pasar saham sedang mengalami tekanan.
Menurutnya, pelemahan IHSG bukan fenomena yang hanya terjadi di Indonesia. Bursa saham di berbagai negara juga mengalami koreksi pada periode yang sama.
“Penurunan IHSG merupakan bagian dari fenomena global, bukan semata-mata karena sentimen domestik. Secara mingguan, lima bursa dengan koreksi terdalam adalah Rusia (MOEX) -9,72 persen, Afrika Selatan (SA40) -6,02 persen, dan Indonesia (JCI) -5,42 persen,” kata Bestari.
Data tersebut menunjukkan bahwa investor global sedang mengurangi eksposur pada aset berisiko (risk-off), sehingga tekanan terjadi hampir di seluruh pasar negara berkembang maupun negara maju.
Di sisi lain, Bestari menilai kondisi sektor riil Indonesia justru masih menunjukkan ketahanan yang baik.
Fenomena tersebut dikenal sebagai decoupling, yakni kondisi ketika pasar saham bergerak berbeda dengan kondisi ekonomi riil. Pergerakan indeks saham dipengaruhi sentimen dan arus modal jangka pendek, sedangkan ekonomi nasional ditopang oleh konsumsi masyarakat, investasi, aktivitas produksi, dan kebijakan fiskal pemerintah.
Sebagai contoh, walaupun IHSG mengalami penurunan bulanan sebesar 5,2 persen dan terkoreksi hingga 31,95 persen secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal I-2026 tetap mencapai 5,6 persen.
“Pasar saham bisa turun karena sentimen merespons volatilitas geopolitik, tapi ekonomi sektor riil tetap tumbuh tinggi,” jelas Bestari.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi indikator bahwa tekanan yang terjadi di pasar modal tidak identik dengan melemahnya fondasi ekonomi nasional.
Sejumlah Faktor Global Menjadi Pemicu
Selain sentimen pasar, terdapat sejumlah faktor fundamental yang dinilai menjadi penyebab utama koreksi IHSG maupun pelemahan rupiah.
Salah satunya adalah hasil evaluasi berkala MSCI (Morgan Stanley Capital International). Belum adanya perubahan status maupun peningkatan bobot Indonesia dalam indeks tersebut membuat pasar kehilangan katalis positif baru sehingga memicu aksi jual investor.
Tekanan juga datang dari meningkatnya arus modal keluar (capital outflow). Ketidakpastian ekonomi global mendorong investor asing mengalihkan dana dari negara berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman.
Faktor lainnya adalah penguatan dolar AS yang dipicu kebijakan suku bunga tinggi di berbagai bank sentral utama dunia. Tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat membuat dana global mengalir ke pasar tersebut sehingga memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di dalam negeri, pelaku pasar juga masih mencermati implementasi berbagai kebijakan fiskal pemerintah.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai investor masih bersikap wait and see untuk melihat dampak program prioritas pemerintah terhadap kesinambungan fiskal dan defisit anggaran dalam jangka panjang.
Pergerakan IHSG Berubah Cepat
Dinamika perdagangan harian juga menunjukkan bahwa pasar tidak bergerak hanya karena satu isu tertentu.
Pada awal perdagangan Kamis (25/6/2026), IHSG dibuka melemah di posisi 5.916,731. Namun dalam waktu singkat indeks berbalik menguat melalui technical rebound sebesar 32,8 poin atau naik 0,56 persen hingga mencapai level 5.918,112.
Pada saat yang sama, sebanyak 321 saham menguat, 171 saham melemah, dan 165 saham bergerak stagnan. Volume transaksi mencapai 1,9 miliar saham dengan nilai perdagangan sekitar Rp1,2 triliun.
Fluktuasi tersebut menunjukkan pelaku pasar terus melakukan penyesuaian harga terhadap berbagai informasi yang masuk secara bersamaan, mulai dari perkembangan nilai tukar regional, kebijakan Bank Indonesia, hingga data ekonomi global.
Volatilitas Pasar Merupakan Hal yang Wajar
Dalam praktiknya, pasar keuangan lebih banyak bergerak mengikuti persepsi risiko dibandingkan kondisi ekonomi riil secara langsung.
Saat ketidakpastian global meningkat atau bank sentral AS mempertahankan kebijakan moneter ketat, investor internasional umumnya mengurangi investasi di negara berkembang dan mengalihkan dana ke aset safe haven seperti obligasi pemerintah AS maupun emas.
Perpindahan modal tersebut menyebabkan tekanan terhadap rupiah sekaligus memicu aksi jual di pasar saham.
Karena itu, pelemahan IHSG maupun rupiah dalam jangka pendek merupakan bagian dari dinamika pasar yang bersifat siklikal dan tidak otomatis mencerminkan perlambatan aktivitas ekonomi nasional.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, ekonom menilai koreksi yang terjadi lebih tepat dipahami sebagai dampak kombinasi kebijakan moneter global, evaluasi indeks internasional, pergerakan modal asing, dan dinamika likuiditas dunia.
Atas dasar itu, mengaitkan seluruh pelemahan pasar keuangan hanya dengan satu pidato politik dinilai tidak mencerminkan kompleksitas mekanisme pasar modern yang saling terhubung secara global.






Tinggalkan Balasan