BGN menyatakan langkah tersebut diambil setelah melakukan penyisiran dan verifikasi terhadap puluhan ribu dapur SPPG.

Dari data yang disampaikan BGN, sebanyak 1.999 dapur belum melakukan pendaftaran SLHS sama sekali. Dapur-dapur tersebut kemudian ditutup sementara untuk menjalani investigasi lebih lanjut.

Sudaryono menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap standar higiene dan sanitasi dalam operasional dapur MBG.

“Sebagaimana publik ketahui, syarat SLHS, sertifikasi laik higiene, dan sanitasi menjadi satu syarat mutlak dalam penyelenggaraan dapur yang menyelenggarakan Makan Bergizi Gratis,” ujar Sudaryono.

BGN juga menjelaskan penutupan tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk menjaga kualitas, keamanan gizi, serta keselamatan penerima manfaat MBG.

Artinya, penutupan 1.999 SPPG tersebut tidak berarti seluruh dapur telah terbukti menyebabkan kasus gangguan kesehatan. Statusnya adalah ditutup sementara karena belum mendaftarkan SLHS dan selanjutnya menjalani investigasi.

Kasus 137 Siswa dan Guru di Blora

Kasus lain muncul di SMAN 1 Tunjungan, Kabupaten Blora.

Sebanyak 137 siswa dan guru dilaporkan mengalami sejumlah keluhan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG.

Kepala SMAN 1 Tunjungan Yuni Ni’wati mengatakan data tersebut terdiri atas 133 siswa, satu guru, serta tiga siswa yang tidak hadir di sekolah tetapi diduga mengalami keluhan serupa.

Keluhan yang dilaporkan antara lain lemas, diare, muntah, mual, dan pusing. Pihak sekolah kemudian melaporkan kondisi tersebut kepada Dinas Kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan.

Meski kasus tersebut dilaporkan berkaitan dengan konsumsi menu MBG, penyebab gangguan kesehatan tetap perlu ditentukan melalui pemeriksaan dan investigasi.

megapolitanco
Editor