Teknik Propaganda di Balik Konten Viral
Di tengah derasnya arus konten bencana, publik juga dihadapkan pada penggunaan teknik propaganda klasik, seperti:
• Name calling, pelabelan sepihak yang menyederhanakan masalah kompleks.
• Card stacking, pemilihan fakta tertentu sambil menyingkirkan informasi penting lainnya.
• Bandwagon, upaya menggiring persepsi seolah-olah satu pandangan mewakili mayoritas korban.
Diksi yang provokatif berisiko mempolitisasi bencana dan memecah solidaritas. Dalam kondisi darurat, narasi semacam ini justru mengalihkan perhatian dari upaya kemanusiaan dan pemulihan.
Antara Monetisasi dan Tanggung Jawab Publik
Pernyataan Seskab Teddy Indra Wijaya kembali menegaskan bahwa media sosial idealnya menjadi ruang edukasi dan empati, bukan sekadar mesin pendulang cuan.
Dengan menerapkan prinsip monetisasi yang berimbang dan bijak berkonten, influencer dapat berperan positif: menyebarkan informasi valid, memperkuat solidaritas sosial, serta membantu publik memahami situasi secara utuh.
Bagi masyarakat, literasi digital menjadi benteng utama untuk menyaring hoaks dan propaganda.
Kolaborasi antara kreator yang bertanggung jawab dan audiens yang kritis diharapkan mampu menjadikan ruang digital sebagai sarana pemersatu saat bencana, bukan sumber kegaduhan baru.






Tinggalkan Balasan