Adapun provokator adalah pihak yang cenderung memicu emosi atau konflik melalui informasi yang bias atau menyesatkan.

Dalam praktiknya, dinamika ruang publik kerap dipengaruhi oleh opini yang tidak berbasis data, baik dari komentar yang dangkal maupun narasi yang bersifat provokatif.

Ancaman dari Opini Minim Data

Fenomena “inflasi pengamat” dinilai berpotensi membentuk persepsi publik yang keliru.

Ketika opini tanpa dukungan data menyebar luas, masyarakat akan semakin sulit memilah informasi yang kredibel dengan yang sekadar asumsi.

Kondisi ini diperburuk oleh algoritma media sosial yang cenderung mengangkat konten sensasional dibandingkan informasi berbasis fakta.

Akibatnya, narasi yang lemah secara data justru lebih cepat menyebar dan memengaruhi opini publik.

Literasi Digital Jadi Kunci

Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan melakukan verifikasi menjadi hal yang sangat penting.

Masyarakat diimbau memastikan sumber informasi berasal dari pihak yang kredibel, memeriksa data pendukung, serta tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang bersifat emosional.

Penguatan literasi digital dinilai mampu membantu publik menjadi lebih selektif sekaligus tangguh dalam menghadapi hoaks maupun misinformasi.

Cermin dari Era Media Sosial

Fenomena ini bukan hal baru. Dalam buku Trust Me, I’m Lying, dijelaskan bagaimana media digital dapat dimanfaatkan untuk membentuk opini publik, termasuk melalui manipulasi informasi.

megapolitanco
Editor