Megapolitan.co – Selain kemampuan menjual hasil tangkapan, keberlanjutan ekonomi nelayan juga dipengaruhi akses terhadap sarana produksi dan biaya operasional.
Kemudahan memperoleh bahan bakar minyak (BBM), ketersediaan fasilitas pendukung, serta pengelolaan infrastruktur menjadi bagian yang ikut menentukan aktivitas perikanan di kawasan pesisir.
Dari sisi pengelolaan hasil, kombinasi antara fasilitas pendaratan, es, penyimpanan dingin, sarana produksi, dan akses pasar dapat membentuk ekosistem yang lebih terintegrasi.
Bagi nelayan, integrasi tersebut memberikan lebih banyak pilihan dalam menentukan bagaimana hasil tangkapan ditangani dan disalurkan.
Kebutuhan membangun ekosistem tersebut menjadi bagian dari pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Kota Sorong, Papua Barat Daya.
Akses BBM Jadi Bagian Ekosistem KNMP
Selain fasilitas penanganan hasil tangkapan, akses terhadap sarana produksi juga menjadi bagian dari pengembangan KNMP.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada Juli 2026 menyatakan bekerja sama dengan Baharkam Polri dan PT Pertamina Patra Niaga untuk memastikan keamanan serta kemudahan akses BBM di titik-titik KNMP.
Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP Lotharia Latif menjelaskan KNMP tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik.
“Jadi program KNMP ini tidak hanya membangun fisik dan pemberdayaan nelayan semata, namun juga memastikan keamanan dan ketertiban kawasan serta kemudahan akses bahan bakar minyak (BBM) bagi nelayan,” ujar Latif.
Menurut KKP, kerja sama dengan Pertamina Patra Niaga juga mencakup sentra nelayan dan pelabuhan perikanan.
Tujuannya agar penyaluran BBM berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan mudah dijangkau masyarakat nelayan.
Pengelolaan Jadi Kunci Keberlanjutan
Pembangunan fisik menjadi tahap awal dalam pengembangan KNMP.
Manfaat jangka panjangnya tetap bergantung pada bagaimana fasilitas tersebut dikelola dan digunakan setelah pembangunan selesai.
Ketersediaan cold storage, pabrik es, dermaga, SPBUN, maupun fasilitas lainnya perlu diikuti tata kelola yang jelas, akses yang mudah bagi nelayan, pemeliharaan sarana, serta hubungan yang berkelanjutan dengan pelaku usaha dan pasar.
Peletakan batu pertama KNMP di Kota Sorong sendiri telah dilakukan Wali Kota Sorong Septinus Lobat pada 17 April 2026 di Kelurahan Rufei, Distrik Sorong Barat.
Pemerintah Kota Sorong menyebut pembangunan tersebut merupakan sinergi dengan KKP untuk pengembangan kawasan nelayan.
Lobat juga mengajak masyarakat nelayan menjaga dan memanfaatkan fasilitas yang dibangun. “Kami juga mengajak masyarakat nelayan untuk menjaga dan memanfaatkan fasilitas ini dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.
Bagi Tanjung Kasuari dan kawasan pesisir lain yang masuk pengembangan KNMP, keberadaan infrastruktur tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan nelayan menangani hasil tangkapan sejak ikan didaratkan hingga dipasarkan.
Dengan penanganan yang lebih baik, potensi hasil laut yang melimpah dapat dipertahankan mutunya sebelum mencapai konsumen.
Pada akhirnya, keberhasilan KNMP dalam memperkuat nilai ekonomi hasil tangkapan tidak hanya ditentukan oleh berdirinya bangunan dan fasilitas.
Keterhubungan antara nelayan, pengelola fasilitas, pembeli, sistem distribusi, rantai dingin, akses BBM, dan pasar menjadi faktor penting agar pembangunan kawasan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir Kota Sorong.
Tinggalkan Balasan