MEGAPOLITAN.CO – Center for Budget Analysis (CBA) meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengevaluasi kinerja Direktur Utama Perumda Pembangunan Sarana Jaya, Bernard Yohanes.

Desakan tersebut muncul setelah perusahaan daerah itu mencatatkan kenaikan laba pada 2025, tetapi justru mengalami penurunan pendapatan.

Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, mengungkapkan Sarana Jaya memperoleh keuntungan Rp45,3 miliar sepanjang 2025.

Capaian tersebut meningkat Rp11,1 miliar dibandingkan laba tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp34,2 miliar.

Namun, peningkatan keuntungan tersebut tidak sejalan dengan perkembangan pendapatan perusahaan.

Berdasarkan data yang dipaparkan CBA, pendapatan Sarana Jaya pada 2024 mencapai Rp343,2 miliar, kemudian turun menjadi Rp308,2 miliar pada 2025.

Artinya, perusahaan mengalami penyusutan pendapatan sekitar Rp35 miliar dalam satu tahun, meskipun keuntungan yang dibukukan justru meningkat.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai faktor yang mendorong kenaikan laba ketika pemasukan perusahaan mengalami penurunan.

“Ini sangat aneh. Meskipun pendapatan tahun 2024 lebih besar daripada tahun 2025, tetapi Pembangunan Sarana Jaya bisa meraih untung besar,” kata Uchok dalam keterangannya, Minggu 8 November 2026.

Akumulasi Laba Belum Pulihkan Kerugian 2023

CBA juga menyoroti kondisi keuangan Sarana Jaya jika dilihat dari kinerja perusahaan dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan laba pada 2024 dan 2025 ternyata belum sepenuhnya mengimbangi kerugian yang dialami perusahaan pada 2023.

Berdasarkan catatan keuangan yang disampaikan CBA, Sarana Jaya mengalami kerugian sebesar Rp82,9 miliar pada 2023. Perusahaan kemudian membukukan keuntungan Rp34,2 miliar pada 2024 dan Rp45,3 miliar pada 2025.

Dengan demikian, total keuntungan selama dua tahun terakhir mencapai Rp79,5 miliar. Jumlah tersebut masih lebih rendah dibandingkan kerugian pada 2023.

Jika dihitung secara sederhana, masih terdapat selisih kerugian sekitar Rp3,4 miliar yang belum tertutupi oleh akumulasi laba dua tahun tersebut.

Kondisi ini menjadi alasan CBA menilai peningkatan keuntungan tahunan belum cukup untuk dijadikan tolok ukur keberhasilan pengelolaan perusahaan.

Perbaikan kinerja juga harus dilihat dari kemampuan perusahaan meningkatkan pendapatan dan memulihkan kondisi keuangan secara berkelanjutan.

Uchok pun meminta Pemprov DKI Jakarta tidak hanya melihat kenaikan laba sebagai pencapaian positif, tetapi juga melakukan evaluasi terhadap kepemimpinan Bernard Yohanes.

“Direktur Utama Bernard Yohanes harus dievaluasi kinerjanya selama memimpin Pembangunan Sarana Jaya agar kinerjanya bisa meningkat terus sampai satu hari sebelum kiamat,” tegas Uchok.

Bernard Yohanes Perlu Buka Penyebab Laba Meningkat

Selain meminta evaluasi direksi, CBA menilai manajemen Sarana Jaya perlu memberikan penjelasan secara terbuka mengenai strategi bisnis dan kebijakan keuangan yang diterapkan.

Terlebih, dinamika pergantian direksi dalam beberapa periode terakhir semestinya tidak menjadi penghambat bagi perusahaan untuk menjaga kesinambungan program kerja dan memperbaiki kinerja bisnis.

Salah satu hal yang perlu dijelaskan Bernard Yohanes adalah sumber peningkatan keuntungan pada 2025 di tengah penurunan pendapatan perusahaan.

Manajemen perlu memaparkan apakah kenaikan laba tersebut berasal dari peningkatan produktivitas usaha, efisiensi biaya operasional, atau adanya faktor lain yang memengaruhi laporan keuangan.

Transparansi tersebut diperlukan agar publik dapat mengetahui apakah peningkatan keuntungan benar-benar mencerminkan perbaikan kegiatan bisnis atau lebih banyak dipengaruhi faktor tertentu di luar pendapatan utama perusahaan.

Di sisi lain, Sarana Jaya juga dituntut memiliki strategi yang terukur untuk meningkatkan pemasukan, mempertahankan profitabilitas, serta memperbaiki kondisi keuangan setelah mengalami kerugian pada 2023.

Bagi CBA, pengawasan Pemprov DKI Jakarta terhadap badan usaha milik daerah (BUMD) tidak boleh berhenti pada pencapaian laba dalam laporan tahunan.

Evaluasi harus mencakup seluruh aspek pengelolaan, termasuk kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan dan menjaga keberlanjutan usaha.

Uchok turut membandingkan kondisi Sarana Jaya dengan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) yang disebutnya mengalami kerugian selama tiga tahun berturut-turut.

Ia mengingatkan agar persoalan kinerja keuangan Sarana Jaya tidak dibiarkan berlarut-larut hingga mengalami kondisi serupa.

“CBA berharap kasus Pembangunan Sarana Jaya jangan seperti PT Jakarta Propertindo, tiga tahun berturut-turut terus merugi, tetapi dianggap sebuah prestasi bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” tutup Uchok.

 

Megapolitandotco
Editor