Program berskala besar membutuhkan penerapan SOP secara disiplin di setiap tahapan, mulai dari pengolahan bahan pangan, proses memasak, pengemasan, hingga makanan diterima oleh penerima manfaat.

Karena itu, persoalan yang ditemukan di Sidoarjo menjadi bagian penting dalam evaluasi pelaksanaan program agar kejadian serupa dapat dicegah.

BGN juga memastikan kondisi para penerima manfaat menjadi prioritas utama selama proses penanganan berlangsung.

Ketidakpatuhan Waktu Distribusi Jadi Temuan BGN

Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengungkapkan hasil pemeriksaan yang dilakukan terkait insiden tersebut.

Menurutnya, salah satu persoalan yang ditemukan berada pada kedisiplinan pelaksana dalam menjalankan ketentuan waktu distribusi makanan.

Makanan yang sudah selesai dimasak memiliki batas waktu tertentu untuk segera diberikan kepada penerima manfaat. Ketentuan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas dan keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG.

Dalam kasus Sidoarjo, BGN menemukan adanya distribusi makanan yang berlangsung melewati batas waktu yang telah ditentukan.

“Itu karena ketidakdisiplinan dari pada SPPG dan pendistribusian. Jadi seharusnya itu loading 4 jam selesai dari masak langsung dibagikan. Tapi faktanya di lapangan lebih dari 4 jam,” kata Ketut kepada wartawan, Kamis (3/9/2026).

Ketut menjelaskan, pelaksanaan MBG memang tidak menggunakan bahan pengawet. Karena itu, pengendalian waktu menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga makanan tetap aman ketika sampai kepada penerima manfaat.

“Nah itulah yang menyebabkan keracunan, karena MBG ini kan nggak pakai pengawet. Jadi mudah dia basi. Mudah bakterinya cepat berkembang,” ujarnya.