Dari sisi perbankan, rasio permodalan juga masih kuat, sementara inflasi tetap terkendali dibanding banyak negara lain pascapandemi dan gejolak energi global.

Bagi investor global, stabilitas fiskal, pertumbuhan ekonomi, neraca perdagangan, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar menjadi faktor penting selain pergerakan kurs harian.

Karena itu, melihat pelemahan rupiah semata-mata sebagai kegagalan kebijakan domestik dinilai terlalu menyederhanakan persoalan tanpa mempertimbangkan tekanan eksternal yang sedang terjadi secara global.

Pelemahan Rupiah Perlu Disikapi Proporsional

Di tengah sistem keuangan global yang semakin terhubung, volatilitas nilai tukar menjadi tantangan yang sulit dihindari, terutama bagi negara berkembang yang bergantung pada arus modal internasional.

Tekanan terhadap rupiah memang perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada impor, biaya energi, hingga sentimen pasar.

Namun menjaga kepercayaan publik dan stabilitas psikologis pasar juga menjadi faktor penting agar tekanan eksternal tidak berkembang menjadi kepanikan domestik.

Saat ini, fokus pemerintah dan Bank Indonesia tampaknya bukan sekadar mengejar penguatan rupiah dalam waktu singkat, melainkan menjaga stabilitas pasar, memastikan likuiditas dolar tetap tersedia, dan mempertahankan kepercayaan investor.

Dalam konteks tersebut, anggapan bahwa pelemahan rupiah sepenuhnya “direkayasa” pemerintah perlu disikapi lebih kritis dan proporsional.

Sebab secara global, tekanan terhadap mata uang negara berkembang memang sedang meningkat akibat kombinasi suku bunga tinggi AS, konflik geopolitik, dan perubahan arus modal internasional yang bergerak sangat cepat.