Kedua, Presiden menyampaikan kritik terhadap pihak yang menurutnya tidak menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas.
Dengan demikian, pernyataan “Kita negara demokrasi. Kita tidak anti kritik” menjadi bagian penting untuk melihat keseluruhan konteks pidato, bukan hanya pada penggunaan istilah “londo ireng”.
Memahami “Londo Ireng” dari Latar Sejarah
Istilah “londo ireng” bukanlah istilah yang muncul tanpa latar belakang sejarah. Berdasarkan publikasi Suara.com, secara etimologi bahasa Jawa, “londo ireng” berarti “Belanda hitam“. Dalam bahasa Belanda, istilah tersebut dikenal sebagai Zwarte Hollanders.
Secara historis, istilah tersebut berkaitan dengan pasukan asal Afrika Barat yang direkrut pemerintah kolonial Belanda untuk bergabung dengan Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL). Perekrutan tersebut berlangsung antara 1831 hingga 1872, setelah periode Perang Jawa.
Jika ditempatkan dalam konteks sejarah dan penggunaannya dalam pidato Presiden, terdapat perbedaan antara makna historis dan penggunaan sebagai metafora politik pada masa kini.
Dimensi
Konteks Sejarah Abad ke-19
Konteks Metafora Politik Modern
Subjek
Prajurit Afrika Barat yang bertugas dalam militer kolonial Belanda (KNIL).
Metafora bagi pihak yang dianggap memihak agenda/kepentingan asing.
Karakteristik
Menggunakan seragam KNIL dan berstatus hukum setara tentara Eropa.
Perilaku atau mentalitas yang dinilai tidak menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas.
Dalam konteks pidato Presiden Prabowo, istilah tersebut digunakan ketika menyampaikan pandangan mengenai pentingnya melindungi kepentingan nasional.
Oleh sebab itu, penggunaan istilah tersebut perlu ditempatkan pada konteks gagasan yang sedang disampaikan, bukan semata-mata ditafsirkan sebagai penyamarataan terhadap seluruh profesi yang disebut.





Tinggalkan Balasan