MEGAPOLITAN.CO – Informasi mengenai rekening yang terancam diblokir atau transaksi mencurigakan bisa menjadi pintu masuk aksi penipuan perbankan.
Pelaku memanfaatkan ketakutan nasabah untuk mendapatkan data rahasia hingga mengarahkan korban melakukan tindakan yang berpotensi menyebabkan kerugian finansial.
Modus tersebut dilakukan dengan menghubungi calon korban melalui telepon sambil mengaku sebagai petugas bank.
Penelepon biasanya menyampaikan kabar seolah-olah terdapat masalah pada rekening atau keamanan akun, kemudian menawarkan bantuan untuk menyelesaikannya.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI meminta masyarakat tidak langsung mempercayai informasi semacam itu.
Nasabah diminta memastikan identitas penelepon dan memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil tindakan.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menjelaskan, pelaku sengaja membangun suasana mendesak agar korban tidak sempat mempertimbangkan risiko dari instruksi yang diberikan.
“Jangan mudah percaya pada panggilan yang mengatasnamakan bank, terutama jika disertai tekanan untuk segera mengambil tindakan. Jangan panik dan jangan terburu-buru mengikuti instruksi penelepon. Tetap tenang dan lakukan verifikasi melalui kanal resmi BNI. Kami juga mengingatkan nasabah untuk tidak membagikan data rahasia perbankan kepada siapa pun,” ujar Okki dalam keterangannya, Jumat (6/11/2026).
Menurut BNI, pola penipuan tersebut dapat diawali dengan pemberitahuan mengenai transaksi yang tidak dikenali, dugaan penyalahgunaan kartu, pemblokiran rekening, hingga gangguan keamanan akun.
Setelah korban merasa khawatir, pelaku mulai mengarahkan percakapan untuk memperoleh informasi penting.
Data yang diincar bisa berupa identitas pribadi, kode verifikasi, maupun informasi akses perbankan. Dalam beberapa kasus, korban juga diarahkan membuka tautan tertentu, mengunduh aplikasi, atau mengakses layanan digital yang diberikan penelepon.
Pelaku turut memanfaatkan teknik komunikasi untuk memengaruhi cara berpikir dan respons calon korban.
Salah satu pendekatan yang disebut dalam modus ini adalah NLP (Neuro-Linguistic Programming atau Pemrograman Neuro-Linguistik), yang berkaitan dengan penggunaan bahasa, pola pikir, dan perilaku.
Teknik tersebut dapat digunakan untuk membangun kesan bahwa penelepon merupakan pihak yang dapat dipercaya. Pada saat bersamaan, korban dibuat merasa takut dan harus segera bertindak sehingga tidak melakukan pemeriksaan terhadap informasi yang diterima.
BNI meminta nasabah segera memutus komunikasi apabila menemukan pola percakapan mencurigakan. Jangan menuruti arahan penelepon, memberikan informasi perbankan, membuka tautan, memasang aplikasi, ataupun melakukan transaksi atas permintaan pihak yang belum terverifikasi.
Langkah berikutnya adalah memeriksa informasi melalui saluran resmi BNI. Apabila nasabah telanjur memberikan data rahasia, mengakses tautan, mengunduh aplikasi, atau melakukan transaksi mencurigakan, BNI menyarankan agar segera menghubungi pihak bank untuk mendapatkan penanganan.
BNI juga menegaskan tidak pernah meminta nasabah menyampaikan PIN, nomor kartu, kode CVV, kode OTP, kode transaksi, maupun password melalui telepon, pesan singkat, email, atau saluran komunikasi lainnya.
Karena itu, masyarakat diminta tidak terkecoh oleh pihak yang mengaku sebagai pegawai atau petugas bank. Identitas yang disampaikan penelepon tidak dapat dijadikan jaminan bahwa komunikasi tersebut benar-benar berasal dari BNI.
Untuk memperkuat keamanan transaksi, BNI terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai perkembangan modus kejahatan digital. Langkah ini dibarengi penyediaan layanan perbankan yang mengedepankan keamanan dan pelindungan konsumen.
Nasabah yang ingin memastikan kebenaran informasi dapat menghubungi BNI Call 1500046. Pemeriksaan juga dapat dilakukan melalui Instagram @BNI46, Facebook BNI, X @BNI dan @BNI_CustomerCare, TikTok @BNI46, serta situs resmi www.bni.co.id.
Okki menekankan bahwa kewaspadaan nasabah menjadi bagian penting dalam mencegah penyalahgunaan informasi perbankan.
Masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa setiap informasi sebelum memberikan respons, terutama jika komunikasi disertai tekanan atau ancaman.
“Ketika menerima informasi yang mencurigakan, hal terpenting adalah tetap tenang dan tidak panik. Beri waktu untuk melakukan verifikasi sebelum mengambil tindakan apa pun.
Dengan kewaspadaan bersama, risiko penyalahgunaan data dan kejahatan perbankan dapat diminimalkan,” tambah Okki.
BNI mengajak masyarakat menerapkan prinsip tidak panik, tidak menyerahkan data rahasia, dan selalu melakukan konfirmasi melalui kanal resmi.
Ketiga langkah tersebut menjadi upaya penting untuk menghindari jebakan penipuan yang memanfaatkan sambungan telepon.






Tinggalkan Balasan