Megapolitan.co – Nilai tukar rupiah menghadapi tekanan menjelang akhir 2026. Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan kurs rupiah berpotensi melemah hingga Rp19.000 per dolar Amerika Serikat (AS) jika tekanan ekonomi global terus berlanjut.

Jika skenario tersebut terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan di pasar keuangan. Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya impor dan mendorong kenaikan harga berbagai barang yang bergantung pada pasokan luar negeri.

Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan Suar, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp18.147 per dolar AS pada perdagangan terakhir Oktober 2026. Angka tersebut menjadi gambaran tekanan yang dihadapi mata uang domestik menjelang pergantian tahun.

Mengapa Dolar Bisa Tembus Rp19.000?

Ibrahim menyebut kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu faktor yang dapat memperberat tekanan terhadap rupiah.

Selain itu, kebutuhan dolar AS diperkirakan meningkat menjelang akhir tahun. Kondisi tersebut berkaitan dengan pembayaran dividen perusahaan serta kewajiban surat utang yang memasuki jatuh tempo.

Tingginya kebutuhan valuta asing di tengah kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Apabila harga minyak mentah yang terus di atas USD 100, ada kemungkinan besar kurs Rupiah ke Rp19.000,” tutur Ibrahim pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Meski demikian, proyeksi tersebut bukan kepastian bahwa rupiah akan mencapai Rp19.000 per dolar AS.

Sejumlah lembaga keuangan juga memiliki perkiraan berbeda. OCBC memproyeksikan rupiah berada di sekitar Rp18.100 per dolar AS pada akhir 2026, sedangkan HSBC sebelumnya memperkirakan kurs berada di kisaran Rp18.000.

Barang Apa Saja yang Berpotensi Naik Harga?

Pelemahan rupiah membuat perusahaan membutuhkan lebih banyak uang untuk membeli barang maupun bahan baku dari luar negeri. Kondisi ini dapat meningkatkan biaya impor dan berimbas pada harga jual produk di dalam negeri.

Beberapa kelompok barang yang berpotensi terdampak antara lain:

1. Barang elektronik

Produk elektronik seperti ponsel, laptop, televisi, dan perangkat rumah tangga berpotensi mengalami kenaikan harga apabila komponen atau produk jadi yang digunakan masih bergantung pada impor.

2. Obat-obatan dan produk kesehatan

Bahan baku farmasi, bahan aktif obat, serta sejumlah peralatan medis yang didatangkan dari luar negeri dapat menjadi lebih mahal ketika nilai dolar meningkat.

3. Kendaraan bermotor

Industri otomotif yang menggunakan komponen impor berpotensi menghadapi kenaikan biaya produksi. Dampaknya dapat diteruskan ke harga kendaraan maupun suku cadang.

4. Bahan pangan

Sejumlah komoditas pangan dan bahan baku industri makanan yang pasokannya bergantung pada impor juga berisiko mengalami kenaikan harga.

5. Produk industri dan kebutuhan rumah tangga

Bahan kimia, plastik, mesin, serta berbagai bahan penolong produksi yang dibeli menggunakan dolar dapat meningkatkan biaya operasional perusahaan.

Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi, menjelaskan pelemahan rupiah dapat memicu inflasi impor atau imported inflation.

“Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak,” ujarnya dalam keterangan UGM pada Minggu, 10 Mei 2026.

Biaya Produksi Naik, Risiko Merembet ke Industri

Dampak pelemahan rupiah tidak berhenti pada mahalnya barang impor. Kenaikan harga bahan baku juga dapat menekan sektor industri yang masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mempertahankan kegiatan produksi. Pilihannya, menaikkan harga jual produk atau menanggung penurunan keuntungan.

Jika tekanan berlangsung dalam waktu lama, perusahaan berpotensi menunda ekspansi dan mengurangi kegiatan operasional. Kondisi tersebut dapat memengaruhi aktivitas industri hingga kebutuhan tenaga kerja.

Dengan demikian, pelemahan rupiah berisiko menimbulkan dampak berantai, mulai dari kenaikan biaya impor, peningkatan ongkos produksi, hingga berkurangnya daya beli masyarakat akibat harga barang yang semakin mahal.

Eksportir Bisa Mendapat Keuntungan

Di tengah tekanan terhadap perekonomian, pelemahan rupiah tidak selalu merugikan seluruh pelaku usaha.

Sebagian eksportir justru berpotensi memperoleh keuntungan karena produk Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi pembeli dari luar negeri ketika dihitung menggunakan mata uang asing.

Namun, keuntungan tersebut bergantung pada struktur biaya produksi. Perusahaan yang masih menggunakan banyak bahan baku dan komponen impor tetap harus menanggung kenaikan biaya akibat mahalnya dolar.

Karena itu, dampak pelemahan rupiah terhadap perekonomian sangat bergantung pada durasi tekanan nilai tukar dan tingkat ketergantungan industri terhadap produk impor.

Bagi masyarakat, perkembangan kurs rupiah perlu dicermati karena pelemahan yang berlangsung lama berpotensi memengaruhi harga kebutuhan sehari-hari dan pengeluaran rumah tangga.

 

Megapolitandotco
Editor