Megapolitan.co – Pemerintah mengalihkan fokus pemulihan pascabencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada percepatan penyediaan hunian layak serta pemulihan infrastruktur vital.

Langkah ini dinilai krusial agar masyarakat terdampak tidak lagi bergantung pada pengungsian menjelang Ramadan dan Lebaran 2026.

Selain memastikan bantuan logistik terpenuhi, pemerintah menilai hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) menjadi tolok ukur utama keberhasilan pemulihan.

Karena itu, pembangunan hunian dikebut bersamaan dengan perbaikan akses jalan, jembatan, dan normalisasi sungai di wilayah terdampak.

Hingga akhir Desember 2025, Kementerian Sosial mencatat penyaluran bantuan tanggap darurat telah melampaui Rp100,48 miliar.

Bantuan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi, mulai dari pangan, perlengkapan keluarga, hingga operasional puluhan dapur umum yang menopang kehidupan warga di masa darurat.

Pemerintah menargetkan huntara dapat difungsikan paling lambat akhir Januari 2026. Target ini disusun agar warga terdampak tidak lagi tinggal di tenda atau pos pengungsian saat memasuki bulan Ramadan.

Di Sumatera Utara, pembangunan huntara direncanakan tersebar di tiga kabupaten, yakni Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan dengan total lebih dari seribu unit.

Sementara itu, pembangunan huntap ditargetkan mencapai hampir enam ribu unit, meski saat ini progres awalnya masih sekitar 20 persen.

Tapanuli Tengah menjadi salah satu daerah yang dipacu penyelesaiannya. Pemerintah daerah mendorong percepatan pembangunan hunian meski wilayah tersebut bukan yang paling parah terdampak, dengan pertimbangan pemulihan sosial warga harus dilakukan merata dan berkelanjutan.

Aceh tercatat sebagai penerima bantuan logistik terbesar dibandingkan provinsi terdampak lainnya. Hingga awal Januari 2026, ribuan ton bantuan telah masuk untuk menjamin kebutuhan dasar warga serta keberlangsungan dapur umum di berbagai titik pengungsian.

Di Sumatera Barat, perhatian utama tertuju pada pemulihan akses wilayah yang sempat terisolasi akibat banjir bandang.

Perbaikan jalan dan normalisasi sungai dipercepat untuk membuka kembali jalur distribusi bantuan sekaligus memulihkan aktivitas ekonomi warga.

Akses menuju Batu Busuak, Kota Padang, yang sebelumnya terputus akibat banjir bandang, kini kembali dapat dilalui kendaraan.

Terbukanya jalur ini menjadi penanda penting dimulainya fase pemulihan yang lebih stabil di wilayah tersebut.

Pemerintah menilai rehabilitasi infrastruktur tidak hanya penting untuk penanganan darurat, tetapi juga sebagai fondasi pemulihan jangka panjang.

Di Sumatera Utara, ratusan miliar rupiah dialokasikan khusus untuk memperbaiki jalan, jembatan, tanggul, serta menormalkan sungai yang menjadi sumber bencana berulang.

Dengan kombinasi bantuan logistik, percepatan hunian, dan pemulihan infrastruktur, pemerintah berharap masyarakat terdampak dapat segera bangkit.

Target besarnya, warga Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dapat menjalani Ramadan dan Lebaran 2026 tanpa lagi dibayangi kondisi darurat, serta kembali menata kehidupan dengan lebih aman dan layak.

Ronnie Sahala
Editor