Megapolitan.co – Sebuah video amatir yang memperlihatkan aksi sejumlah pelajar mengejar dan menggedor sebuah mobil Honda BR-V di Jalan Sochari, Cipare, Kecamatan Serang, Banten, Senin sore, viral di media sosial.

Dalam rekaman itu, para pelajar tampak memukul kaca kendaraan hingga mobil tersebut akhirnya hilang kendali dan terguling.

Mobil tersebut dikemudikan oleh MHRA, pelajar SMAN 1 Kota Serang yang saat itu membawa rekannya, DZA. Keduanya melaju dari arah Cijawa menuju Sumur Pecung ketika sekelompok pelajar lain yang menggunakan sepeda motor mengejar mereka.

Diduga panik setelah kendaraan digedor dan diteriaki, MHRA kemudian menabrak mobil Toyota Calya yang dikendarai AR, hingga akhirnya mobil BR-V tersebut terpelanting dan terbalik.

Kerasnya benturan membuat bagian depan mobil ringsek, sementara kaca kendaraan pecah. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Dua pelajar di dalam mobil hanya mengalami memar.

Komite SMAN 1 Kota Serang, Muhammad Arif Kirdiat, membenarkan pengemudi dan penumpang mobil tersebut adalah siswa sekolah mereka.

Namun ia menegaskan, bahwa tuduhan yang ramai beredar di media sosial, yang menyebut keduanya melakukan tindakan mesum di dalam mobil, tidak benar.

“Awalnya mereka hanya hendak pergi makan. Namun tiba-tiba ada oknum ojek online yang menggedor mobil, lalu muncul pelajar lain yang mengejar sambil meneriaki maling dan mesum,” ujar Arif.

Ia menegaskan pihak sekolah dan komite menolak narasi yang berkembang di media sosial.

Sementara Wakasek Kesiswaan SMAN 1 Kota Serang, Neneng Fitryapari, juga menegaskan bahwa kedua pelajar itu dikenal sebagai siswa berperilaku baik. Menurutnya, reaksi panik membuat keduanya tidak mampu mengendalikan situasi.

“Di dalam mobil memang siswa kami. Mereka panik, takut, lalu banting setir hingga mobil terguling. Sekarang mereka masih syok dan belum masuk sekolah hingga hari ini akibat difitnah,” jelas Neneng.

Polresta Serang Kota saat ini telah menangani kasus tersebut dan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait dugaan pengejaran serta penyebaran informasi yang tidak akurat di media sosial.