Megapolitan.co – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas setelah muncul dugaan gangguan kesehatan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Kepala BGN Sudaryono menyatakan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berkaitan dengan persoalan tersebut akan mendapatkan tindakan, termasuk penghentian sementara operasional.

Selain menghentikan kegiatan dapur, Kepala SPPG yang bersangkutan juga dicopot untuk mendukung proses investigasi terhadap kejadian yang dilaporkan.

Keputusan tersebut diambil setelah terdapat laporan sejumlah siswa SMA Negeri 1 Berastagi mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan MBG.

Dugaan Gangguan Kesehatan Jadi Bahan Evaluasi

Kasus dugaan keracunan MBG di Berastagi menjadi perhatian setelah sejumlah siswa dilaporkan mengalami keluhan kesehatan dan kemudian mendapatkan penanganan medis.

Informasi mengenai peristiwa itu selanjutnya beredar di media sosial dan menimbulkan kekhawatiran masyarakat mengenai keamanan makanan yang diberikan dalam pelaksanaan program MBG.

Meski demikian, penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa belum dapat dipastikan sebelum seluruh tahapan pemeriksaan dan investigasi diselesaikan.

Pemerintah melalui BGN tetap menempatkan hasil pemeriksaan sebagai dasar untuk menentukan penyebab sebenarnya dari kejadian tersebut.

Karena itu, informasi awal mengenai dugaan keracunan perlu dibedakan dengan kesimpulan resmi agar penyebab gangguan kesehatan tidak ditentukan hanya berdasarkan informasi yang berkembang di masyarakat.

BGN Langsung Ambil Tindakan terhadap SPPG

Kepala BGN Sudaryono menyampaikan bahwa pihaknya melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG setelah adanya laporan kejadian di Berastagi.

Dalam keterangannya, Sudaryono menegaskan bahwa SPPG atau dapur yang berkaitan dengan persoalan tersebut dapat langsung diberikan sanksi sebagai bagian dari pengawasan pelaksanaan program.

“Pokoknya kami cek, dapur kami suspend, kemudian kepala SPBG-nya kami copot,” jelas Sudaryono, dikutip Tirto, Kamis, 13 Agustus 2026.

Tindakan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah tidak mengabaikan persoalan yang muncul di lapangan dan langsung mengambil langkah pengamanan terhadap unit pelaksana yang berkaitan dengan kasus.

Penghentian sementara operasional dapur juga memberikan kesempatan kepada pihak terkait untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh sebelum pelayanan dari unit tersebut kembali dijalankan.

Investigasi Menentukan Sanksi Berikutnya

Setelah melakukan penghentian sementara terhadap dapur, BGN juga memastikan proses investigasi dilakukan untuk mengetahui secara lebih jelas mengenai kejadian yang terjadi di Berastagi.

Sudaryono menyebut investigasi dibutuhkan untuk mengetahui apakah terdapat unsur kesengajaan atau pelanggaran yang dilakukan pihak pelaksana SPPG.

“Kami investigasi kemudian kalau perlu kalau dia memang secara ada kesengajaan unsur ini unsur itu ya SPPG kalau perlu kami pecat, dapurnya kami tutup permanen,” tegasnya.

Dengan demikian, langkah BGN tidak berhenti pada penghentian sementara operasional maupun pencopotan kepala SPPG yang berkaitan dengan kejadian.

Apabila hasil investigasi nantinya menemukan pelanggaran yang memenuhi dasar pemberian sanksi, BGN membuka kemungkinan untuk menjatuhkan tindakan yang lebih berat terhadap pihak yang bertanggung jawab.

Komitmen BGN Jaga Standar Keamanan

Sudaryono juga menegaskan bahwa BGN memiliki komitmen untuk mencegah terjadinya kasus keracunan dalam pelaksanaan program MBG pada waktu mendatang.

“Yang intinya kami juga ingin menegaskan bahwa keinginan kami adalah zero, zero tolerance terhadap adanya kasus keracunan kemudian di kemudian hari,” ungkap Sudaryono.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa aspek keamanan pangan menjadi perhatian pemerintah dalam menjalankan program MBG yang menyasar masyarakat penerima manfaat.

Komitmen tersebut sekaligus menjadi dasar bagi BGN untuk terus melakukan evaluasi terhadap SPPG dan memastikan unit pelaksana menjalankan pelayanan sesuai ketentuan yang ditetapkan.

Satu Dapur Disuspend, Program Tetap Berjalan

Penghentian sementara operasional sebuah dapur SPPG tidak dapat disamakan dengan penghentian program MBG secara keseluruhan.

Dalam kasus Berastagi, langkah BGN diarahkan kepada unit pelaksana yang berkaitan dengan dugaan gangguan kesehatan tersebut.

Proses investigasi tetap dilakukan untuk memastikan ada atau tidaknya pelanggaran sekaligus menentukan bentuk pertanggungjawaban apabila ditemukan kesalahan dalam pelaksanaan.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah dapat melakukan koreksi terhadap unit pelaksana yang bermasalah tanpa harus menghentikan program MBG secara menyeluruh.

Di sisi lain, pemeriksaan tetap menjadi bagian penting untuk memastikan keamanan makanan yang diberikan kepada penerima manfaat serta menentukan tindakan lanjutan terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.

Perlindungan Penerima Manfaat Jadi Perhatian

Dugaan gangguan kesehatan dalam pelaksanaan MBG di Berastagi menjadi bahan evaluasi bagi BGN untuk memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan program pada tingkat SPPG.

Investigasi diperlukan agar penyebab keluhan kesehatan para siswa dapat diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan semata-mata berdasarkan informasi yang berkembang di media sosial.

Apabila hasil pemeriksaan menemukan unsur kesengajaan atau pelanggaran serius, Sudaryono telah menegaskan adanya kemungkinan pemberian sanksi lebih berat, termasuk pemecatan dan penutupan permanen dapur.

Dengan demikian, respons BGN terhadap kejadian di Berastagi memperlihatkan adanya mekanisme pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksana program MBG.

Hasil investigasi nantinya menjadi dasar penting bagi BGN dalam menentukan tindakan terhadap SPPG yang bersangkutan sekaligus memastikan pelaksanaan program MBG tetap berjalan dengan mengedepankan keamanan dan kepentingan penerima manfaat.