Megapolitan.co – Badan Karantina Indonesia (Barantin) meningkatkan kewaspadaan terhadap lalu lintas hewan dan produk ternak, khususnya yang berasal dari luar negeri.

Langkah ini diambil untuk mencegah masuknya wabah Peste des Petits Ruminants (PPR) yang berpotensi mengancam sektor peternakan nasional.

Kepala Barantin Sahat Manaor Panggabean mengungkapkan, wabah PPR terdeteksi di Vietnam pada November 2025 dan kemudian menyebar ke sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara. Kondisi tersebut menjadi peringatan dini bagi Indonesia agar tidak lengah.

“PPR ini sudah ada di 70 negara dan sekarang tengah bergerak dari Afrika masuk ke Asia Tenggara. Oleh karena itu sebelum masuk ke Indonesia kita melakukan antisipasi, jangan sampai kita kaget,” katanya kepada wartawan, Kamis (15/1/2026).

Menurut Sahat, PPR termasuk dalam kategori Hama Penyakit Hewan Karantina (HPPK) dengan tingkat risiko yang sangat tinggi. Penyakit ini diketahui sangat mematikan, terutama bagi ternak kambing dan domba.

“Virus ini menular cepat ke hewan jenis kambing dan domba. Tingkat kematiannya bisa sampai 100 persen,” ujarnya.

Sebagai bentuk pencegahan, Barantin memperketat pengawasan arus masuk hewan hidup maupun produk turunannya dari luar negeri.

Selain itu, koordinasi juga diperkuat dengan kementerian dan lembaga terkait, termasuk pemerintah daerah, guna memastikan pengawasan berjalan terpadu.

Sahat menegaskan, pencegahan sejak dini menjadi kunci agar wabah tersebut tidak berdampak luas dan merugikan peternak, khususnya peternak kecil.

“Sebelum wabah ini masuk kita cegah dari sekarang, jadi jangan sampai nantinya para peternak rugi karena ternaknya mati. Apalagi peternak kita rata-rata peternak kecil yang cuma punya kambing sedikit,” paparnya.

Sementara itu, Deputi Karantina Hewan Barantin, Sriyanto, menjelaskan PPR disebabkan oleh virus yang bersifat akut dan mudah menyebar. Gejalanya pun kerap sulit dibedakan dengan penyakit ternak lainnya.

“Ciri-cirinya hampir sama dengan penyakit hewan lainnya, seperti demam, gangguan pernafasan hingga diare. Dan kami saat ini mulai mengantisipasi agar penyakit ini jangan sampai masuk ke Indonesia,” tandasnya.

Barantin memastikan langkah antisipatif akan terus diperkuat demi menjaga kesehatan hewan ternak dan keberlangsungan usaha peternakan di Tanah Air.

Ronnie Sahala
Editor