Megapolitan.co – Perumda Pasar Jaya memperkuat gerakan pemilahan sampah sejak dari sumber untuk mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah di Jakarta.

Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Agus Himawan Widiyantoro mengatakan, persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan melalui teknologi maupun penyediaan fasilitas pengolahan.

Menurut Agus, perubahan perilaku masyarakat sejak sampah dihasilkan menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan sistem pengelolaan sampah.

Ia menjelaskan, pemilahan seharusnya dilakukan mulai dari rumah sebelum sampah dibawa ke tempat pengumpulan maupun fasilitas pengolahan. Langkah tersebut dinilai dapat membentuk sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.

“Kuncinya tetap ada di masyarakat, yaitu memilah sampah dari rumah,” ujar Agus, Rabu (19/8/2026).

Ia menekankan, gerakan pemilahan sampah dari sumber perlu dijalankan secara konsisten dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat.

Dengan begitu, kebiasaan memilah sampah tidak hanya menjadi program dalam jangka waktu tertentu, melainkan dapat melekat dalam aktivitas masyarakat Jakarta sehari-hari.

“Gerakan ini benar-benar menjadi budaya baru bagi Jakarta,” katanya.

Perumda Pasar Jaya memiliki posisi strategis dalam gerakan tersebut lantaran mengelola sekitar 153 pasar rakyat yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta.

Keberadaan pasar tidak hanya berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi ruang pertemuan pedagang dan masyarakat dalam jumlah besar setiap harinya.

Karena itu, Pasar Jaya mendorong pengelolaan sampah di lingkungan pasar dilakukan secara lebih terarah.

Upaya tersebut antara lain melalui pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pemanfaatan kembali barang yang masih layak digunakan, serta pemisahan sampah berdasarkan jenisnya.

Agus menyebut pasar juga dapat menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap pengelolaan sampah.

Pedagang dan konsumen dapat dibiasakan memisahkan sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), hingga sampah residu.

Pemilahan sejak sumber juga menjadi bagian dari penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R). Sampah yang masih memiliki manfaat maupun nilai ekonomi dapat dipisahkan untuk digunakan kembali atau didaur ulang. Sementara sampah residu dapat diarahkan menuju fasilitas pengolahan yang sesuai.

Agus menilai persoalan sampah tidak hanya menyangkut kebersihan lingkungan perkotaan. Menurutnya, cara masyarakat memperlakukan sampah juga mencerminkan tingkat kesadaran dan kualitas peradaban suatu kota.

“Peradaban sebuah bangsa juga ditentukan dari bagaimana kita memperlakukan sampah,” tegasnya.

Agus menyebut persoalan sampah di Jakarta yang hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Pemerintah, pengelola pasar, pedagang, konsumen, pelaku usaha, komunitas, hingga masyarakat memiliki tanggung jawab sesuai dengan peran masing-masing.

“Persoalan sampah Jakarta yang selama ini belum terselesaikan dapat kita atasi bersama,” ucap Agus.

Selain memperkuat pemilahan dari sumber, Pasar Jaya turut mendukung inovasi pengelolaan sampah yang dikembangkan pemerintah. Salah satunya melalui penerapan konsep ekonomi sirkular serta teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau Waste to Energy (WtE).

Namun, Agus menegaskan teknologi tidak bisa berjalan sendiri dalam sistem pengelolaan sampah. Pengurangan dan pemilahan dari sumber tetap menjadi tahapan awal yang menentukan kualitas sampah sebelum masuk ke proses pengolahan berikutnya.

Dengan jaringan pasar yang tersebar di berbagai wilayah, Pasar Jaya berupaya menjadikan lingkungan pasar sebagai salah satu sarana edukasi mengenai pengelolaan sampah.

Kebiasaan menggunakan tas belanja secara berulang, mengurangi plastik sekali pakai, hingga memilah sampah diharapkan semakin melekat dalam aktivitas perdagangan sehari-hari.

Gerakan tersebut ditujukan untuk membangun pemahaman bahwa pengelolaan sampah bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas kebersihan. Rumah tangga, pedagang, maupun konsumen juga memiliki peran sejak sampah pertama kali dihasilkan.

Melalui penguatan pemilahan dari sumber, Perumda Pasar Jaya berharap pengelolaan sampah di Jakarta dapat berlangsung lebih efektif dan berkelanjutan. Upaya itu sekaligus menjadi bagian dari langkah bersama untuk mewujudkan Jakarta yang lebih bersih, sehat, tertata, dan berkelanjutan.

Pemilahan Sampah Harus Dimulai dari Rumah

Terpisah, Pengawas Lingkungan Hidup Cempaka Putih, Agus Sasmita, dalam Diskusi Publik Jakarta Bergerak Bersama, Pilah Sampah dari Sumber, Jadi Budaya Baru Warga Kota, mengatakan pengolahan sampah masyarakat perlu diawali dengan pemisahan sejak dari sumber.

“Jadi enggak bisa langsung, itu diolah organiknya, lalu nanti jadi bahan makanan atau pakan. Nah, salah satunya apa dari sumbernya? Dari sumbernya ini berarti dari rumah tangga,” jelasnya.

Menurut Agus, selain melakukan pemilahan sejak sumber, masyarakat juga perlu memahami SOP pemilahan sampah rumah tangga.

Pemahaman tersebut diperlukan agar proses pengangkutan sampah dari rumah warga dapat berjalan lebih tertib dan tidak menambah kesulitan bagi petugas.

“Jadi sama seperti SOP-nya, dipisah. Mungkin ada 4 atau 3 kategori di situ. Salah satunya B3, tapi B3 kan jarang-jarang. Sisa-sisa bahan beracun seperti obat nyamuk, obat-obatan, suntikan, itu mungkin jarang ya,” tandasnya.

 

 

megapolitanco
Editor