Megapolitan.co – Isu lama mengenai Presiden Prabowo Subianto yang dituding meminum bir saat menjamu Presiden Prancis Emmanuel Macron kembali mencuat di media sosial.
Video yang sebelumnya telah diklarifikasi pemerintah kembali beredar dan memicu beragam perdebatan di ruang digital.
Potongan video yang menampilkan momen Presiden Prabowo dan Presiden Emmanuel Macron mengangkat gelas dalam jamuan makan malam kenegaraan kembali disebarluaskan oleh sejumlah akun dengan narasi berbeda.
Video tersebut digiring seolah menunjukkan adanya konsumsi minuman beralkohol dalam agenda resmi negara.
Narasi yang berkembang di media sosial menyebut cairan berwarna keemasan yang berada di gelas kedua kepala negara sebagai bir.
Isu itu kemudian meluas dan dikaitkan dengan sentimen agama maupun norma yang berlaku di tengah masyarakat Indonesia.
Padahal, video yang digunakan bukanlah rekaman baru. Konten tersebut merupakan dokumentasi gala dinner dalam rangka kunjungan kenegaraan Presiden Macron ke Indonesia pada 2025 yang sebelumnya juga sempat menjadi bahan perdebatan dan telah dinyatakan tidak benar.
Sejumlah unggahan di Instagram, Facebook, TikTok hingga platform X kembali mengangkat potongan visual tersebut tanpa menampilkan konteks utuh dari acara diplomatik yang sedang berlangsung.
Narasi yang berkembang bahkan menyeret lembaga keagamaan untuk merespons tudingan terkait konsumsi alkohol tersebut.
Pemerintah melalui Istana Kepresidenan pun kembali menegaskan bahwa informasi yang beredar merupakan hoaks.
Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Yusuf Permana memastikan minuman yang dikonsumsi Presiden Prabowo bukan minuman keras sebagaimana tudingan yang beredar.
“Sari apel,” kata Yusuf Permana saat memberikan klarifikasi kepada media.
Penjelasan serupa disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang menegaskan bahwa minuman tersebut merupakan sparkling apple cider non-alkohol.
“Itu sparkling apple cider, 100 persen juice. Bukan wine dan tidak mengandung alkohol,” ungkap Teddy.
Klarifikasi tersebut sekaligus membantah berbagai narasi yang berkembang di media sosial mengenai dugaan konsumsi minuman keras dalam agenda kenegaraan.
Tidak hanya pemerintah, sejumlah lembaga pemeriksa fakta juga telah melakukan verifikasi terhadap video yang kembali viral tersebut. Hasil penelusuran menunjukkan klaim yang beredar tidak sesuai dengan fakta.
Jabar Saber Hoaks menyimpulkan unggahan yang menyebut Prabowo meminum bir saat gala dinner bersama Emmanuel Macron termasuk kategori misleading content atau konten menyesatkan.
Lembaga tersebut menegaskan bahwa minuman yang digunakan dalam prosesi toast kenegaraan merupakan sparkling apple cider non-alkohol.
Sementara itu, kanal Infohoax Badung juga menyatakan informasi yang beredar tidak benar. Berdasarkan hasil penelusuran, minuman yang dikonsumsi kedua kepala negara adalah sari apel dan bukan minuman beralkohol.
Liputan6 Cek Fakta juga sampai pada kesimpulan serupa. Hasil verifikasi menunjukkan klaim mengenai Prabowo meminum bir telah diklarifikasi langsung oleh pihak Istana dan dinyatakan tidak benar.
Pakar literasi digital menilai pola seperti ini kerap muncul dalam penyebaran disinformasi di media sosial. Potongan video dengan durasi singkat sering kali digunakan untuk membentuk persepsi tertentu tanpa menampilkan informasi secara utuh.
Dalam kasus ini, momen bersulang dalam gala dinner kenegaraan dipisahkan dari konteks diplomasi resmi antara Indonesia dan Prancis sehingga memunculkan pemahaman yang berbeda dari fakta sebenarnya.
Di tengah polemik yang berkembang, substansi utama kunjungan Presiden Emmanuel Macron ke Indonesia sejatinya berfokus pada penguatan hubungan bilateral kedua negara.
Pertemuan antara Presiden Prabowo dan Presiden Macron saat itu membahas berbagai kerja sama strategis mulai dari sektor ekonomi, investasi, pertahanan, pendidikan, teknologi hingga hubungan diplomatik jangka panjang antara Indonesia dan Prancis.
Jamuan makan malam kenegaraan yang menjadi sumber video viral tersebut merupakan bagian dari agenda diplomasi resmi antarnegara, bukan agenda terkait konsumsi alkohol sebagaimana dituduhkan dalam narasi yang beredar.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa potongan visual tanpa konteks dapat digunakan untuk membangun opini yang berbeda dari fakta sebenarnya.
Karena itu masyarakat diimbau untuk lebih teliti memeriksa informasi sebelum menyebarluaskannya agar tidak ikut memperbesar penyebaran disinformasi di ruang digital.






Tinggalkan Balasan